Showing posts with label TEKNOLOGI. Show all posts
Showing posts with label TEKNOLOGI. Show all posts

Friday, 11 August 2017

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 7)

Catatan-catatan sosial kecil dalam koran-koran, bahkan dalam koran-koran kecil, telah merangsang refleksi-refleksi yang menarik dan membawa orang kepada pemikiran-pemikiran mendalam. Segala sesuatu memiliki cita rasanya sendiri, kebenarannya sendiri. Saat membaca catatan-catatan statistik resmi, Gramsci menulis (terasa agak ironi juga karena harian Ordine Nuovo terpaksa menerbitkan catatan-catatan statistik itu dalam kolom-kolomnya seperti yang dilakukan oleh koran-koran lain atas dasar kengototan para pembacanya) berita-berita atau ide-ide yang menarik.

‘Di satu sisi, kaum borjuis dan di sisi lain, kaum proletariat ada dalam catatan statistik ini sebagaimana halnya ada dalam kota imajiner yang diciptakan oleh Wells dimana sedikit demi sedikit, dua wujud kemanusiaan meningkat pesat jumlahnya tanpa ada kontak sama sekali di antara keduanya. Hasil pengamatan pertama menunjukkan bahwa ada banyak buruh muda yang menikah, yang memiliki keberanian untuk menghadapi kehidupan, sementara ada sangat sedikit anak muda dari kelas menengah yang melakukan hal yang sama, hanya satu dari sepuluh orang.

‘Jika diamati lebih jauh, sementara sangat jarang bagi seorang buruh muda untuk menikahi seorang wanita dari lapisan kelas menengah, hal sebaliknya sering terjadi. Apa sebabnya? Barangkali karena fakta bahwa para buruh merasa lebih kuat ikatan karakteristik dan asal-usulnya sebagai kelas buruh, dan terhadap wanita-wanita borjuis, mereka merasa acuh tak acuh, jika bukannya memusuhi.’ Namun, ada yang lebih membingungkan dalam catatan-catatan statistik resmi tersebut”

‘Lihat bagaimana keungggulan para buruh terampil cenderung terjaga dalam hal memilih pasangan hidup, dan yang terutama lihat bagaimana kelompok semi-proletariat mempertahankan karakteristik mereka, bagaimana kelompok anggota kelas menengah merasa malu disebut sebagai buruh, bagaimana para buruh yang sangat ingin hidup seperti halnya kelas menengah dan yang jika gagal mencapainya lewat pekerjaan, akan berusaha untuk mengangkat taraf diri mereka dengan menikahi seorang “intelektual” ketimbang seorang kamerad sesama buruh.’ Tentu saja, sudah jelas apa yang hendak dikatakan oleh Gramsci.

Hal tersebut merupakan sebuah contoh dari bagaimana, bahkan dari pembacaan atas kolom nama dan jumlah, kita bisa menarik pelajaran mengenai sejarah kelas dan mengembangkan sebuah pelajaran berharga darinya bagi siapa saja: ‘Bahkan catatan statistik yang paling kering dan paling monoton pun menjalani kehidupan yang sama sebagaimana semua fakta yang membentuknya.’

 Di samping itu, masa tersebut merupakan sebuah periode dimana perbincangan mengenai keluarga, mengenai arti penting wanita dalam keluarga dan dalam masyarakat, mengenai kehidupan seksual dan pernikahan menyebar luas. Persoalan seksual terutama menjadi ‘obsesi’ yang luas. Barangkali hal ini terkait dengan bentuk keterpisahan tertentu antara kota dan pedesaan yang kita saksikan dalam masa kita, kata Gramsci. Tentu, bukan kebetulan bahwa semua buku ‘utopia’ memimpikan sebuah masyarakat yang didasarkan pada komunisme primitif, dimana persoalan seksual ‘harus memainkan peran yang sangat besar’.

Bahkan harus diingat, reproduksi sendiri memiliki sebuah ‘fungsi ekonomi’. Namun persoalan seksual membawa dalam dirinya persoalan lain, barangkali persoalan yang lebih penting, ‘yaitu persoalan pembentukan sebuah kepribadian feminin yang baru’. Kaum wanita harus memiliki posisi yang berbeda dalam ranah keluarga dan masyarakat. ‘Sepanjang kaum wanita bukan saja belum mencapai kemandiriannya yang riil dari kaum pria, namun juga konsepsi baru atas diri mereka dan peran mereka dalam hubungan seksual, maka persoalan seksual akan tetap penuh dengan karakteristik yang tak sehat. Karena itu untuk bersikap hati-hati dalam melakukan perubahan dalam perundang-undangan.’

Posisi wanita dalam keluarga dan dalam masyarakat pada masa-masa itu sungguh sulit. Ketidakamanan dan ketidakstabilan yang dirasakan oleh kaum wanita menjadi bukti akan hal ini. Bukan hanya wanita yang telah menikah, yang menjadi kepala keluarga dengan beberapa anak, yang tak sanggup memahami sesuatu yang lebih jauh di luar rasa cinta kasih mereka yang kuat terhadap anak-anaknya. ‘Ibu tak boleh merasa khawatir, dan ibu harus berpikiran bahwa saya dalam keadaan damai.

Oh! Ibu-ibu yang terlalu mengasihi anaknya! Jika saja dunia ini selalu berada di tangan ibu-ibu yang demikian, maka para laki-laki akan tinggal di gua-gua dan berpakaian kulit kambing!’ tulis Gramsci kepada ibunya pada tanggal 7 November 1927; namun juga wanita yang belum menikah tampaknya hanya melulu tahu tentang tugas ‘keibuan’-nya, dan tak sanggup memahami problem-problem sosial yang melingkupinya yang tak berdampak langsung terhadap dirinya.

‘Segala sesuatu,’ tulis Gramsci sekali lagi kepada ibunya pada tanggal 1 Februari 1932 menyinggung masalah keponakan perempuannya, Mea, ‘terletak dalam kemauan baik dan ambisinya dalam artian yang baik. Selain itu, dunia tak akan runtuh jika dia menghabiskan waktunya di Ghilarza, hanya duduk-duduk merajut karena tak memiliki keinginan untuk berusaha mencapai keberhasilan dalam melakukan sesuatu secara lebih baik dan lebih brilyan. Saya tak tahu apakah dia menjadi anggota organisasi pemudi Fasis.

Saya rasa begitu, meskipun ibu tak pernah menulis tentangnya kepadaku, dan saya membayangkan bahwa dia memang memiliki beberapa ketertarikan dalam pertunjukan-pertunjukan semacam itu. Jadi, dia akan menjalani takdir yang sama seperti para pemudi Italia lainnya, yaitu menjadi ibu yang baik buat keluarganya, seperti sebutan buat mereka. Mereka menjalani takdir demikian karena menikahi orang pandir, yang sesungguhnya belum tentu pandir karena sebenarnya orang pandir hanya ingin menikahi ayam-ayam betina yang berasal dari negeri-negeri Skandinavia dan kaya-raya.’

Gramsci sendiri secara pribadi sangat menghormati pribadi wanita. Rasa sayangnya dan rasa hormatnya kepada ibunya dan saudara ipar perempuannya tampak jelas dari kehidupan dan dalam surat-suratnya. Memang masih harus dinilai secara umum sikap ‘teoretis’-nya terhadap wanita yang bagi kita, -para pembaca di sebuah masa yang telah mengalami perubahan-perubahan secara begitu cepat, termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan kita,- mungkin tampak begitu terbatas.


PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 6)

Koran-koran ‘independen’ kadangkala menjadi corong dari beberapa ‘kekuatan-kekuatan tahayul’ yang memiliki kepentingan untuk memunculkan ‘gerakan-gerakan opini publik yang liar sepanjang waktu.’ Sejarah Negara Italia juga adalah sejarah bagaimana ‘Negara, ketika berkeinginan untuk memulai sebuah aksi populer, menciptakan sebelumnya opini publik yang dibutuhkannya’.

Dengan kata lain, negara Italia menjalankan serangkaian operasi yang mengijinkannya untuk mengorganisir elemen-elemen civil society yang dibutuhkannya. Apa yang biasanya ditunjuk oleh frase ‘opini publik’ barangkali memang telah selalu ada dalam tingkatan tertentu, bahkan di negeri-negeri timur; namun dalam artian tertentu, frase itu muncul hanya setelah keruntuhan dan lenyapnya Negara-negara absolutis.

Dalam periode yang bersamaan, kaum borjuis yang pada saat itu telah cukup kuat sudut pandang ekonomisnya, berupaya juga untuk merebut kekuasaan politik. Problem fundamentalnya ialah untuk bisa membuat semua opini publik berpihak kepada negara borjuis: ‘Karena itu, muncul pertarungan demi monopoli  atas organ-organ opini publik: seperti koran, partai, parlemen, sehingga sebuah kekuatan tunggal akan bisa membentuk opini dan juga kehendak politik nasional, dan memotong-motong seluruh perbedaan pendapat menjadi partikel-partikel yang bersifat individual dan non-organik.’


Baru-baru ini, kata Gramsci dengan merujuk pada situasi periode dimana dia menulis (namun itu tak berarti tak bernilai dan tak bisa diterapkan untuk konteks saat ini), muncul dua elemen baru yang mengacaukan rencana-rencana yang telah dibuat sebelumnya oleh partai-partai tradisional untuk memonopoli opini publik: yaitu pers gosip dan radio. Kedua elemen baru ini, karena populeritas dan ‘kecepatan peredarannya’ memiliki kemampuan untuk ‘merangsang munculnya letupan-letupan kepanikan atau antusiasme fiktif yang spontan yang memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan yang telah ditentukan, sebagai misal dalam pemilu’.

Situasi letupan spontanitas ini bisa terjadi karena kedaulatan umum dipandang sebagai sesuatu yang dijalankan hanya pada selang-selang waktu yang reguler, sepperti setiap tiga, empat atau lima tahun. Maka, kemudian seluruh perhatian dari kelas yang berkuasa beralih kepada bagaimana menciptakan ‘supremasi ideologis’ (atau lebih tepatnya, supremasi emosional) pada hari tertentu. Sesudah itu, selama tiga, empat atau lima tahun berikutnya, kelas ini akan terus melanjutkan kekuasaannya atas negeri ini.

Bahkan saat emosi tersebut diwujudkan dalam undan-undang, namun ‘massa pemilih telah menjadi berjarak dengan perwujudan legal dari dirinya (karena bangsa secara riil berbeda dari bangsa secara legal)’.[1] Apa yang bisa dilakukan oleh partai-partai untuk mencegah semua ini – semua manipulasi yang tak tahu malu atas opini publik? Tak banyak, barangkali bahkan lebih sedikit dari yang bisa dilakukan oleh serikat buruh yang bebas: ‘Salah satu problem teknik politik yang muncul saat ini, namun yang tak sanggup ditemukan penyelesaiannya oleh demokrasi, ialah berikut ini: yaitu menciptakan organ-organ perantara antara massa umum yang tak bisa diorganisir oleh serikat buruh (atau sulit untuk diorganisir), serikat-serikat buruh profesional, partai-partai politik dan dewan-dewan legislatif.’

‘Sosialisme masih sering ditampilkan sebagai musuh keluarga,’ begitu Gramsci mengawali sebuah artikel yang diterbitkan dalam Il Grido del Popolo yang terbit tanggal 9 Februari 1918. Komentar di atas ini merupakan salah satu komentar klise yang paling tersebar luas, terutama di kalangan strata penduduk yang tak bersimpati kepada kaum sosialis, dan yang di sisi lain di kalangan mereka yang tak cukup terdidik untuk mengetahui program kaum sosialis dan apa yang sebenarnya diperjuangkan kaum sosialis. Bagi kaum sosialis, keluarga merupakan ‘sebuah organisme moral’.

Keluarga menetapkan kewajiban-kewajiban moral yang pertama kepada individu dan ‘keluarga harus diintegrasikan kembali dalam fungsi moralnya yang satu, yaitu mempersiapkan manusia, mendidik warga’. Inilah yang menjadi pemikiran kaum sosialis, paling tidak mereka yang bukan merupakan ‘pemuja fanatik Negara’ dan mereka yang tidak percaya bahwa ‘dalam sebuah rezim sosialis, pendidikan anak-anak harus diserahkan kepada institusi-institusi Negara’.

Namun, pernahkah muncul dalam pemikiran bahwa dalam masyarakat borjuis, setiap individu harus memecahkan problem-problem kelangsungan hidupnya sendiri, problem anak-anak dan istrinya dengan sebuah sarana-sarana ‘solusi yang antimanusiawi’, dengan sarana perjuangan yang melawan individu-individu yang lain, dengan penguasaan hak istimewa yang secara niscaya didasarkan pada beban pundak manusia-manusia yang lain?

Penghapusan hak milik, di sisi lain, bisa ‘menjadikan keluarga menjadi apa yang ditakdirkan sebagai tujuan dirinya: yaitu sebagai organ dari kehidupan moral’.

x

[1] Ini merupakan sebuah ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana pemilu yang sangat dibatasi dijadikan dasar bagi Negara Italia. 

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 5)

Gramsci memberi judul Come deve essere fatto un giornale comunista pada salah satu artikelnya yang dimuat dalam harian Ordine Nuovo pada tanggal 31 Oktober 1921. Sebuah koran komunis, kata Gramsci, harus menemukan sebuah basis komunis yang luas yang mendukungnya secara aktif, bukan hanya dalam kata-kata, namun juga dengan tulisan dan aksi. Tanpa mereka sadari, kaum buruh rupanya masih terbawa untuk mengasimilasikan tendensi-tendensi borjuis kecil. Sebagai misal, mereka memandang koran dalam cara yang sama dengan kaum borjuis kecil memandang koran-koran mereka sendiri.

Ini merupakan problem ‘penggerogotam yang nyata terhadap kelas buruh’ yang obatnya harus ditemukan. Sebuah kerjasama yang aktif dan bernilai harus dijalankan, dan pembentukan sebuah ‘mata rantai permanen antara koran dan inti kaum proletariat yang merasakan dan mengalami problem-problem kelas secara keseluruhan’ sangat dibutuhkan. Mata rantai ini tak bisa dan tak boleh dibentuk antar individu, namun antara koran dan massa buruh, dengan segenap kekuatan organisasi yang mengorganisir gerakan kaum buruh berada di belakang sebagai pendukungnya.


Arti penting dari harian terhadap pendidikan, terhadap pembentukan kepribadian, dan terhadap ‘kebebasan’ individu untuk mengambil pilihan-pilihan yang menentukan tak boleh dilupakan. Media massa borjuis yang besar, yang disebut sebagai koran-koran independen, merupakan ‘tentara-tentara ideologis bayaran’ yang melayani kepentingan kapital, dan berperanan sebagai bagian dari perjuangan kelas, bagian yang penting.

Koran borjuis berperanan seperti halnya perusahaan komersial besar yang seluruh niatannya ialah “menyuling laba politik’. Kaum borjuis memiliki ribuan dan ribuan koran dan mesin cetak. Jadi, bisakah orang sunggguh-sungguh berbicara tentang kebebasan dalam sebuah Negara yang borjuis? Bisakah orang bisa sungguh-sungguh mengatakan bahwa sebuah parlemen yang dipilih dalam kondisi-kondisi demikian merepresentasikan ‘kebebasan’ kehendak dari bangsa?

‘Pers, bersama dengan partai-partai politik, merupakan bagian integral dari rezim parlementer demokratis yang terorganisir dengan baik. Jika pers gagal dalam tugasnya untuk menjadi sebuah organ kontrol opini publik yang tak memihak, siapa yang akan bisa melawan kesewenang-wenangan para pejabat?’ Namun, justru kelas menengahlah yang pertama kali sadar betul akan kekosongan dari ideal-ideal yang mendasari masyarakat mereka.

Merekalah yang pertama kali memahami betapa ideal-ideal tersebut tak memiliki substansi apapun yang nyata:‘Para jurnalis borjuis tahu semua ini, namun mereka membiarkan semua kebohongan itu terus berlangsung’.Mereka dengan sadar membiarkan setiap manipulasi atas kebenaran, fakta-fakta dan hati nurani.

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 4)

Belajar adalah sebuah kerja keras, dan tentu saja seorang anak yang belajar akan menjadi jemu, dan segala hal harus kita lakukan untuk mengurangi kerja keras itu ke tingkat minimum yang diperlukan. Namun kita juga harus meyakini bahwa ‘belajar adalah kerja perkembangan diri’, bukan hanya merupakan kerja manual yang hanya bisa diartikan sebagai bekerja dan kerja keras. Dengan kata lain, belajar mensyaratkan proses adaptasi yang besar-besaran lewat ‘usaha, rasa bosan, dan bahkan penderitaan’.

Sebuah sekolah menengah yang komprehensif, yang dijalani oleh banyak pelajar, ‘memiliki kecenderungan mengendur tingkat disiplin belajarnya dan kecenderungan munculnya tuntutan untuk “memberikan kelonggaran-kelonggaran”’. Banyak orang yang bahkan beranggapan bahwa ketidakmudahan-ketidakmudahan dalam disiplin belajar itu adalah sesuatu yang tidak perlu ada karena mereka terbiasa menganggap hanya kerja manual saja yang harus dijalani sebagai bekerja dan kerja keras.

Ambil contoh kasus anak dari sebuah keluarga intelektual. Sang anak tidak terlalu mendapati kesulitan untuk beradaptasi dengan proses bersekolah sama halnya dengan ‘anak seorang buruh perkotaan yang masuk ke pabrik jika dibandingkan dengan anak petani atau dengan seorang petani muda yang terbiasa dengan kehidupan pedesaan’. Tampak jelas apa yang menjadi fokus pemikiran Gramsci. Dia secara terus-menerus mengulang bahwa problem-problem pendidikan itu kompleks. Dia memang terkesan masih meraba-raba dan belum menemukan solusi ideal bagi problem sekolah dalam masyarakat komunis, sekolah di masa depan di Negara Buruh.

Problem-problemnya kompleks dan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi begitu besar ‘jika seseorang ingin menciptakan sebuah strata intelektual yang baru, yang akan mencakup mereka yang paling terampil dari kelompok sosial yang secara tradisional belum mengembangkan perilaku-perilaku yang tepat’.


 Lettere dal Carcere pun menjadi sebuah dokumen luar biasa untuk menghimpun ide-ide Gramsci mengenai pengajaran dari sudut situasi-situasi aktual karena dia, paling tidak via surat-suratnya, terlibat langsung dalam mendidik dan mengembangkan kepribadian anak-anaknya dan keponakan-keponakannya. Kerja pengembangan diri seorang pendidik adalah kerja yang tak mudah. Hanya orang yang bisa memahami anak-anak secara akrab dan bisa mendampingi mereka sepanjang gerak perkembangan mereka dan bisa memahami jalan mendidik yang mungkin terbaik, sepanjang dia tidak terbutakan oleh perasaan-perasaannya sendiri, tenggelam ke dalam perenungan yang semata-mata bersifat estetis mengenai anak karena hal ini secara implisit berarti mendegradasikan fungsi dari sebuah kerja seni’.

Sebuah kekeliruan yang harus dihindari (dan yang merupakan kekeliruan yang umum dilakukan) ialah percaya bahwa ‘dalam diri anak telah ada secara potensial manusia dewasa seutuhnya. Sehingga karena itu, yang perlu ialah membantunya mengembangkan apa yang telah ada secara laten tanpa paksaan, dan membiarkan kekuatan-kekuatan alam atau apapun yang bersifat spontan membentuknya’. Padahal, pembentukan manusia dewasa itu merupakan sesuatu yang bersifat historis, tumbuh dari paksaaan (yang tentu saja tidak boleh diartikan semata-mata sebagai kekerasan dari orang lain). Jika orang menolak pandangan kritis tersebut, ‘orang akan jatuh ke dalam paham transendentalisme atau imanentisime’.

Jika konsepsi pendidikan sebagai aktivitas ‘membantu tumbuhnya potensi laten yang telah ada’ ditolak dan kita tak lagi percaya akan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat imanen yang bisa muncul sejak dini, maka anak harus diarahkan secara tepat ke arah pembelajaran yang seimbang, ke arah ‘sebuah adaptasi harmonis dari seluruh fakultas intelektual dan praktis yang akan berkesempatan untuk menjadi terspesialisasi seiring waktu di atas dasar kepribadian yang kokoh yang terbentuk secara integral dan menyeluruh’.

Sangat sulit untuk menentukan apa yang baik dan apa yang buruk dalam bidang ini: ‘dalam realitas, saya hampir tak tahu apa-apa mengenai anak-anak, mengenai gerak perkembangan intelektual mereka, mengenai kehidupan kongkret mereka.’

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 3)

Setiap momen pedagogis memunculkan persoalan-persoalan yang berbeda-beda. Di sekolah-sekolah dasar, pendidikan anak-anak pada pokoknya harus mempernalkan gagasaan-gagasan awal mengenai ilmu alam dan gagasan-gagasan awal mengenai hak dan kewajiban warga negara. Dengan kata lain, prinsip pendidikan sekolah dasar ialah ‘konsep dan fakta mengenai pekerjaan (sebagai aktivitas teoretis-praktis)’.

Maka, upaya untuk memperkenalkan konsep hak dan kewajiban, dengan kata lain tatanan Negara dan sosial ke dalam tatanan alam membolehkan keduanya diidentikkan. Dengan menggunakan istilah gagasan, Gramsci sadar betul akan bahwa hal itu menimbulkan kontroversi, namun berjuang melawan metode pengajaran fakta-fakta semata-mata merupakan sebuah kekeliruan karena ‘tidaklah tepat bahwa pendidikan itu berbeda dari latihan berpikir’.

Sebagai misal, dalam tipe sekolah tradisional yang mengajarkan bahasa Latin, dianut sebuah nilai yang jauh lebih bersifat mendidik dan sebuah keberatan bahwa sekolah yang hanya mengajarkan apa yang telah mati adalah keliru. Sesungguhnya, ‘setiap analisis yang dilakukan oleh seorang anak muda memang hanya bisa menganai hal-hal yang mati’. Studi bahasa Latin tidak boleh menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, namun menjadi unsur yang merupakan bagian dari sebuah program skolastik yang ideal yang sanggup memuaskan kompleks kebutuhan yang bersifat psikologis dan pedagogis.

Pertempuran besar kaum sosialis karenanya merupakan sebuah pertempuran demi pembentukan sebuah sekolah komprehensif yang tidak akan melanggengkan pemisahan kelas atas masyarakat: ‘Sekolah tradisional berwatak oligarkis karena diperuntukkan buat generasi baru dari lapis penguasa, yang pada gilirannya juga akan berkuasa, namun sekolah tradisional juga berwatak tidak oligarkis karena metode pendidikannya.’

Karena itu, kaum soialis tak harus merestrukturisasi sistem pendidikan secara total, namun barangkali bisa menerima sebagian besar program-program dan solusi-solusi lama. Restrukturisasi akan bertujuan pada intinya menghapuskan setiap pemisahan, setiap penghalang ‘rasialis’ antara satu tipe sekolah dengan tipe sekolah yang lain.

Orang tak boleh membiarkan jalur pendikan yang satu dikhususkan bagi mereka semua yang akan menjadi kelas penguasa negeri ini, sementara jalur pendidikan yang lain dikhususkan untuk pelatihan kejuruan bagi para buruh, yang sejak awal dikecualikan dari kemungkinan untuk menjalankan fungsi ‘kepemimpinan’: ‘Karena itu, perbanyakan tipe sekolah kejuruan cenderung melanggengkan pembedaan-pembedaan yang bersifat tradisional.

Namun karena perbanyakan ini sendiri menghasilkan stratifikasi-stratifikasi internal dalam pembedaan tersebut sehingga kemudian tercipta kesan adanya tendensi yang bersifat demokratis dalam perbanyakan tersebut.’

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 2)

Gramsci memandang problem sekolah ini sebagai sebuah problem yang bersifat teknis sekaligus politik. Negara liberal tak memiliki kesanggupan untuk mengatasinya, bahkan tak memiliki kesanggupan untuk menyelaraskannya dengan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuannya sendiri. Hal ini karena secara blak-blakan bisa dikatakan bahwa ‘kelas menengah menjalankan sekolah-sekolah demi tujuan-tujuan kekuasaannya’.

Sifat otonom ini sesungguhnya bisa menjadi keuntungan bagi sekolah-sekolah sepanjang sekolah-sekolah itu menjalin kontak dengan realitas. Namun alih-alih, kaum borjuis malah mengangkat menteri-menteri Pengajaran Umum semata-mata di atas dasar kriteria yang bersifat oportunistik. Kaum borjuis telah menyerahkan sekolah-sekolah kepada birokrat-birokrat, dan hanya mengejar terciptanya keseimbangan yang paling stabil antar berbagai klik dalam tubuh partai Pemerintahan atau partai-partai politik.

Sebaliknya, ‘di Negara dewan-dewan buruh, sekolah-sekolah ini merepresentasikan salah satu dari aktivitas-aktivitas publik yang paling penting dan esensial.’ Kita mungkin bisa melangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa gerak perkembangan yang positif dari masyarakat komunis akan sangat bergantung pada gerak perkembangan yang teratur dan rasional dari sekolah-sekolah. Ini merupakan prinsip-prinsip yang harus kita percayai, kata Gramsci. Kita memang harus mengelaborasi sebuah solusi atas berbagai problem secara menyeluruh, namun solusi awal tetap bisa dan harus diambil.

Konsep yang dianut saat ini oleh kaum sosialis ‘bahwa sekolah kejuruan merupakan sekolahnya kaum buruh’, harus ditolak dengan tegas. ‘Dalam konsep tersebut, terletak pengakuan bahwa masih terdapat dua kelas yang bersifat turun-temurun.’ Ini merupakan sebuah tesis yang kontra-revolusioner dan karena itu, harus dilawan sebagaimana halnya ide yang dianut secara khas oleh organisasi pendidikan kaum borjuis bahwa tujuan alami dari pendidikan ialah ‘kultur obyektif.’

‘Pemisahan secara mendasar tehadap sekolah-sekolah,’ tulis Gramsci dalam Gli Intellettuali, ‘antara sekolah klasik dan sekolah kejuruan merupakan sebuah skema yang rasional: sekolah kejuruan bagi kelas-kelas subordinat dan sekolah-sekolah klasik bagi kelas yang berkuasa dan bagi para intelektual.’ Kata sifat rasional di sini harus dipahami dalam artian terarah menuju sebuah tujuan tertentu. ‘Saat ini, terdapat sebuah kecenderungan untuk menghapuskan setiap tipe persekolahan yang “tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan langsung” (disinterested school) (yang tidak langsung bersifat praktis [sekolah klasik]) atau tipe persekolahan “pembentukan diri” (formative school).

Atau hanya membangun sejumlah kecil sekolah klasik yang diperuntukkan bagi sejumlah kecil elit laki-laki dan wanita yang tak pernah khawatir akan masa depannya, serta membangun secara luas sekolah-sekolah kejuruan spesialisasi yang sudah dengan sendirinya sedari awal telah menentukan takdir dari para murid dan aktivitasnya di masa depan’.

Sekolah komprehensif, -yang akan dibangun oleh sosialisme untuk melenyapkan keterpisahan kelas dalam masyarakat sejak dari akarnya,- haruslah berupaya untuk menanamkan nilai-nilai ‘humanisme’ yang fundamental. Pada intinya, sekolah-sekolah itu harus menanamkan disiplin diri dan otonomi yang akan memungkinkan setiap orang, sebagai hasil dari proses studi mereka, untuk memiliki kesanggupan intelektual maupun moral untuk mencapai jenjang spesialisasi yang lebih tinggi, baik yang bersifat saintifik (studi-studi di Universitas) maupun yang bersifat praktis dan produktif (dalam dunia industri, dalam birokrasi dsb.).

Dalam tahun-tahun pembentukan diri ini, agar para murid bisa mencapai kematangan intelektual dan moral yang diinginkan, ‘sebuah sikap ketegasan yang otoritatif dan menentukan tidak boleh dijalankan secara kaku’, meski tujuannya ialah bagaimana ‘memoderasikan dan memperkaya orientasi dogmatis yang mau tak mau harus dimiliki pada usia-usia awal tersebut’.

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 1)

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT

‘Sekolah tradisional berwatak oligarkis
karena diperuntukkan buat generasi baru
dari lapis penguasa,
yang pada gilirannya juga akan berkuasa’
namun sekolah tradisional juga berwatak tidak oligarkis
karena metode pendidikannya.’
(Gramsci, Gli intellettuali e l’organizzazione della cultura, h. 112)

Gramsci membahas problem pendidikan proletarian, dan termasuk di dalamnya problem sekolah, untuk pertama kalinya secara gamblang dan baru dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Il Grido del Popolo pada tanggal 9 Desember 1916. Dia menyebut problem pembentukan manusia ‘dalam fungsi gandanya, yaitu fungsi teknis dan spiritual’ sebagai problem ‘primer’. Selama masa-masa Perang Dunia Pertama, kaum borjuis Italia telah membicarakan tentang perlunya sebuah pendidikan ‘yang bersifat nasional’.

Namun, menurut Gramsci, saat ini hal yang lebih perlu dilakukan ialah ‘menentang tesis sosialis bahwa pendidikan yang humanis yang sederhana dan murni sajalah yang cocok bagi kelas masyarakat umum yang berhak mendapatkan pendidikan’. Pembedaan yang lebih penting bukanlah antara sekolah-sekolah nasional atau humanis, atau antara sekolah-sekolah agama dan sekuler, namun mengenai isi dari program pendidikan untuk massa. Isi dari program itu haruslah bersumber dari kesadaran yang bersifat serta merta dan langsung akan kebutuhan-kebutuhan, cita-cita, hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka’.

Semua ini tak akan mungkin tercapai sepanjang ada monopoli terhadap pendidikan, dimana kekuasaan dalam sekolah-sekolah berada di tangan kaum borjuis atau para pendeta: ‘Kita harus merebut pendidikan massa dari kelas-kelas yang berkuasa.’

Sistem pendidikan borjuis sendiri tengah berada dalam kehancuran. Anak-anak dari kelas menengah yang kolot tak lagi memiliki ideal-ideal, dan berlagak menjadi para pahlawan dan meniru ayah-ayah mereka dengan jalan mengejek sekolah, pengajaran, pendidikan dan setiap bentuk disiplin dan kerja. Anak-anak yang bersekolah di sekolah Little Turin bermain-main menjadi anggota-anggota serikat buruh dan menentang ‘eksploitasi’ yang dijalankan oleh guru-guru mereka.

‘Pemberontakan’ mereka ini tentu saja lantas menimbulkan rasa muak sekaligus sedih: ‘Anak-anak muda menjadi pengecut sekaligus melihat terlalu banyak kepengecutan. Kekasaran spiritual yang sedemikian kuat melanda di kalangan anak-anak muda itu begitu memalukan dan menyedihkan.’ Namun, kita tak harus terperanjat atau terkejut atas situasi ini karena anak-anak dari para anggota kelas menengah memang tidak memiliki ideal-ideal yang bisa memandu gerak perjuangan mereka, yang bisa memandu ‘tuntutan-tuntutan’ mereka.

Pada akhirnya, yang mereka miliki hanyalah kemampuan yang sangat tidak terbatas untuk menemukan kelemahan-kelemahan dan ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan fisik dari guru-guru mereka dan mengejek penampilan luar dan cita-cita kecil guru-guru mereka. Ini semua bukan lagi kenakalan ala kanak-kanak. Kedangkalan naluriah semacam itu, kenakalan yang tak terkendali semacam itu telah membuat cemas warga negara-warga negara yang menjadikan sekolah-sekolah dan pendidikan anak-anak muda sebagai jantung kepeduliannya.

Namun, apa yang sesungguhnya terjadi ialah ‘sekolah-sekolah itu tengah mengalami disintegrasi sebagaimana yang dialami oleh institusi-institusi yang lain, dan dipenuhi dengan segerombolan gangster. Korupsi tengah menyelusup dan menghancurkan sekolah-sekolah yang seharusnya bertugas memperbaharui masyarakat dengan cara membentuk diri generasi-generasi masa depan. Tak ada cara dan kriteria yang bisa menghambat proses pembusukan ini. Benih dari setiap regenerasi selalu ada dalam diri anak-anak muda. Dan tak mungkin bagi negara kita untuk berharap tercipta sebuah pembaharuan masyarakat dari berandal-berandal muda ini’. 

SERIKAT BURUH: HUBUNGAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI (BAGIAN 5 HABIS)

‘Kaum mandarin’ dalam tubuh serikat buruh tak lagi berniat untuk melawan penyebaran fasisme. Namun, anehnya mereka malah terpilih untuk mengorganisir kekuatan-kekuatan kelas buruh dan mengorganisir perlawanan kaum proletariat. Maka, sejak itulah, para pejabat dari birokrasi baru ini bukannya menjadi pejuang-pejuang kelas buruh. Mereka tak lagi berhasil dalam beraksi melawan serangan-serangan pihak majikan.

Bahkan jika ‘para pekerja FIAT adalah manusia-manusia yang berdarah-dan-berdaging, perlawanan dan semangat pengorbanan mereka tak boleh disalahgunakan dan mereka harus diperlakukan seperti layaknya manusia-manusia yang nyata’. ‘Optimisme revolusioner kita harus selalu dikuatkan oleh visi realitas manusia yang sangat pesimistik  ini, dan kita harus selalu memperhitungkan hal ini.’ Bahkan jika perjuangan itu berlangsung kejam, kaum revolusioner harus menggunakan setiap energinya untuk memulihkan kehendak revolusioner massa dan menyelamatkan mereka dari pengaruh buruk kaum reformis dan para pengkhianat.

‘Pesimisme kita boleh menguat, namun kehendak kita tak boleh lenyap.’

SERIKAT BURUH: HUBUNGAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI (BAGIAN 4)

Dewan-dewan pabrik, menurut Gramsci, mengandaikan sebuah kematangan politik yang tidak selalu ada dalam strata proletarian dalam masyarakat. Pengalaman Rusia sendiri sangat sering memunculkan disintegrasi dewan-dewan pabrik karena massa petani yang besar jumlahnya, ketika dilibatkan secara paksa dan tergesa-gesa ke dalam proses produktif, tak sanggup mengembangkan sebuah pengelolaan yang mandiri, tak sanggup mengelola sendiri industri.

Dewan pabrik haruslah memiliki isi yang original jika dibandingkan dengan gagasan serikat buruh yang lama sehingga perealisasian dewan pabrik yang lengkap dan sempurna hanya akan bisa berlangsung dalam lingkungan-lingkungan yang luar biasa, dimana kaum proletariat telah siap dan sadar serta cukup matang untuk memikul segenap tanggung jawab proses produktif. 

Dan hal ini bisa demikian karena ‘kami memahami dewan pabrik sebagai sebuah institusi yang sangat original, yang berlokasi secara unik dalam lingkungan-lingkungan yang diciptakan oleh struktur kapitalisme untuk kelas buruh dalam periode historis saat ini. Dewan pabrik merupakan sebuah institusi yang tak boleh dikacaukan dengan serikat buruh, yang tak boleh dikoordinasikan oleh dan disubordinasikan pada serikat buruh. Justru, sejak kemunculan dan perkembangannya, dewan pabrik-lah yang akan menentukan perubahan-perubahan radikal dalam struktur dan bentuk serikat buruh.’

Relasi antara dewan pabrik dan serikat buruh sulit dan akan tetap sulit karena sementara serikat buruh tidak mempersoalkan dunia industri dimana di dalamnya dia tumbuh, ‘Dewan pabrik merupakan negasi atas keabsahan dunia industri yang cenderung ingin dihancurkannya dalam setiap bentuknya. Dewan pabrik secara terus-menerus berkecenderungan membawa kelas buruh pada perebutan kekuasaan industrial, mengubah kelas buruh menjadi sumber kekuasaan industrial.’ ‘Dalam situasi Italia,’ yang terjadi justru sebaliknya, ‘pejabat serikat buruh memandang keabsahan dunia industri sebagai sesuatu yang permanen.’

Pada bulan Juli 1920, Gramsci mengirimkan sebuah laporan mengenai gerakan dewan pabrik di Turin kepada Komite Eksekutif Komunis Internasional. Setelah menggarisbawahi bahwa ‘yang menjadi kepala dari gerakan pembentukan dewan-dewan pabrik ialah kaum komunis yang menjadi anggota cabang dari Partai Sosialis dan organisasi-organisasi serikat buruh’, kata Gramsci secara panjang lebar mengenai pembentukan dewan-dewan pabrik dan mengenai antusiasme yang muncul sebagai dampak atas pembentukan dewan-dewan pabrik di kalangan buruh di Turin. 

Apa yang terasa penting ialah bahwa karena ada kemungkinan bahwa pembahasannya akan menjadi ‘bersifat teknis’, maka  laporan Gramsci itu diperluas mencakup seluruh tema fundamental dari perjuangan politik. Termasuk di dalamnya pengakuan terhadap adanya ‘kebutuhan akan kedisiplinan dan kediktatoran’, dan sebuah pernyataan bahwa kelompok Ordine Nuovo selalu berusaha mengikuti ‘prinsip bahwa pembentukan daftar calon harus dilakukan di kalangan massa kelas buruh dan bukan dari puncak birokrasi serikat buruh’. Kelompok itu juga memandang penting problem ‘pengalihan perjuangan serikat buruh dari medan korporatis dan reformis yang dangkal ke arena perjuangan revolusioner untuk merebut kontrol atas produksi dan untuk mendirikan kediktatoran kaum proletariat’.


Dalam perluasan yang dilakukan Gramsci terhadap tema-tema ini, dalam penyelidikannya mengenai sebab-sebab mendalam dari pilihan-pilihan keputusannya, terdapat dorongan kuat untuk menguji diri yang mungkin akan menimbulkan pengalaman pahit bagi seluruh kelas buruh Italia. Menurutnya, hanya dengan ini, kita akan mungkin bsa memahami sebab-sebab terjadinya kesalahn-kesalahan yang telah dilakukan oleh gerakan buruh. Hanya dengan begitu, menjadi mungkin bagi kita untuk memahami bahwa ‘ketidaksepakatan antara kaum revolusioner dan kaum reformis mengenai tugas-tugas serikat-serikat buruh merupakan ketidaksepakatan antara birokrasi serikat buruh yang telah memusatkan seluruh fungsi politik organisasi buruh dalam dirinya- dengan massa yang terorganisir’.

Argumen ini diajukan secara tajam untuk melawan para pemimpin Konfederasi Buruh (CGL), melawan ‘kaum mandarin’, melawan semua birokrat dan pejabat serikat buruh. Kadangkala muncul kecurigaan, kata Gramsci, bahwa CGL hanya ada untuk menaikkan gaji para pejabatnya, untuk melapangkan jalan ‘bagi kecongkakan rendah para pejabat CGL yang ingin menaikkan diri mereka sendiri ke puncak piramid dari dua juta buruh yang terorganisir, dan yang ingin berkata secara angkuh: kami, beberapa individu, sama besarnya dengan dua juta orang dan kami harus dianggap sebagai wakil-wakil dari dua juta orang itu’.

Karena dipimpin oleh kaum reformis, CGL bukan saja telah menanggalkan jalan paham serikat buruh revolusioner, namun bahkan secara aktual kehilangan kemampuannya untuk mengimplementasikan corak politik ‘roti dan mentega’ yang telah mereka tunjukkan secara demikian efisien di masa lalu. Sebagai misal, harga roti kemudian menjadi naik. Kaum komunis harus mengakui bahwa inilah realitas yang ada dan memandang CGL sama seperti organsasi borjuis lainnya, ‘yaitu sebagai sebuah organisasi dimana kekuasaan tak akan bisa dimenangkan dengan cara-cara yang konnstitusional’.

Perjuangan bagi pembentukan dewan-dewan pabrik ini akan memungkinkan mayoritas untuk meraih kemenangan dalam tubuh CGL, namun untuk mencapai tujuan ini, adalah perlu untuk membentuk dan mengembangkan dewan-dewan pabrik ‘yang merupakan perjuangan spesifik dari Partai Komunis’. Adalah perlu untuk tahu bagaimana meyakinkan massa serikat buruh bahwa para pemimpin mereka tak lagi menjadikan perjuangan kelas sebagai tujuan, tak lagi memandang kaum borjuis, namun justru kaum komunis-lah, sebagai musuh yang harus dilawan, dan tak lagi mewakili massa. Hal inilah yang harus selalau diklarifikasi dan dielaborasi secara lebih seksama demi kepentingan-kepentingan kesadaran proletarian.

SERIKAT BURUH: HUBUNGAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI (BAGIAN 3)

Gramsci berulang kali menggarisbawahi perbedaan fundamental antara gerakan dewan pabrik dengan bentuk-bentuk serikat buruh yang telah ada lebih dulu, baik yang berwatak reformis maupun revolusioner semu. Jika ‘periode saat ini merupakan periode yang revolsuioner’, maka serikat buruh dan aksi politik dari massa dan para pemimpin mereka haruslah juga berwatak revolusioner. Gerakan dewan-dewan pabrik harus memiliki karakteristik-karakteristik ini, dan menjawab kebutuhan-kebutuhan historis yang baru.

‘Kelahiran dewan-dewan buruh pabrik merepresentasikan sebuah kejadian historis yang besar, merepresentasikan awal dari sebuah era baru dalam sejarah umat manusia. Karena dewan pabrik itulah, proses revolusioner muncul ke permukaan dan memasuki fase dimana di dalamnya dewan pabrik bisa tampil dan membuktikan diri.’ Setiap dewan pabrik harus menjadi unit dari sebuah gerak perkembangan yang akan berpuncak dalam Komunis Internasional.

Karakter revolusioner dewan-dewan pabrik itu akan menciptakan sebuah tipe hubungan yang baru antara serikat buruh dan partai, sebuah tipe hubungan yang telah terlihat secara implisit dalam pembentukan dewan-dewan pabrik tersebut: ‘Partai dan serikat buruh tidak boleh memunculkan diri sebagai guru atau sebagai superstruktur yang telah ada sebelumnya dari institusi baru ini, yang merupakan institusi hasil perwujudan kongkret dari proses historis revolusi.

Alih-alih, partai dan serikat buruh harus menjadi agen-agen pembebasan yang secara sadar membebaskan diri dari kekuatan-kekuatan penghalang yang dimunculkan oleh Negara borjuis. Partai dan serikat buruh harus berupaya untuk mengorganisir kondisi-kondisi eksternal (kondisi politik) secara umum yang memungkinkan proses revolusioner bisa berkembang dengan paling pesat, yang memungkinkan kekuatan-kekuatan produktif liberal bisa mencapai perluasannya secara paling luas.’


Kutipan di atas telah menimbulkan kontroversi yang tiada henti di kalangan para penafsir Gramsci. Tentu saja Gramsci menegaskan sifat otonomi dari perkembangan dewan-dewan pabrik, baik dalam relasinya dengan serikat buruh maupun dengan partai. Bahkan, dia menempatkan dewan-dewan pabrik di atas keduanya dalam hal arti pentingnya. Peran serikat buruh dan partai haruslah hanya untuk membersihkan berbagai jenis rintangan yang dibuat oleh kaum borjuis dari jalan revolusioner yang dilewati oleh dewan-dewan pabrik.

Namun, jangan kita lupakan bahwa Gramsci menulis baris-baris kalimat tersebut ketka dia masih menjadi seorang militan dalam Partai Sosialis, dalam sebuah partai yang semakin menunjukkan sifat parlementer dan reformisnya. Setelah pengalamannya sebagai pemimpin dan sekretaris Partai Komunis, yaitu selama tahun-tahun dia dipenjara, dia menulis sebuah catatan mengenai tema dewan pabrik ini dengan penitikberatan yang sangat berbeda: ‘Haruskah serikat-serikat buruh tunduk pada partai? Adalah kekeliruan jika kita mengajukan pertanyaan semacam itu.

Pertanyaan itu harus diletakkan dalam kerangka prinsip berikut: setiap anggota partai, apapun posisi yang dia jabat atau apapun tugas yang dia jalankan, selalu merupakan anggota partai dan selalu tunduk pada kepemimpinan partai. Jadi, tak mungkin ada subordinasi antara serikat buruh dan partai. Jika serikat-serikat buruh telah memilih secara spontan seorang anggota partai sebagai pemimpin mereka, itu berarti bahwa serikat-serikat buruh itu secara sukarela bersedia menerima arahan-arahan dari partai, dan karena itu bersedia secara sukarela menerima (bahkan menginginkan) kontrol partai atas para pemimpin serikat-serikat buruh.’

Rasanya penting bagi kita untuk menggarisbawahi arus ‘satu arah’ dalam pemikiran Gramsci tersebut yang selalu dimulai dari pengakuan secara tegas akan eksistensi dan arti penting partai agar kemudian partai bisa bercabang ke arah-arah lain. Namun, mari kita kembali ke tahun-tahun semasa Gramsci terlibat dalam L’Ordine Nuovo.

SERIKAT BURUH: HUBUNGAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI (BAGIAN 2)

Dalam sebuah catatan ringkas yang diterbitkan pada tahun 1918 dalam Il Grido del Popolo, Gramsci memulai analisisnya mengenai serikat-serikat buruh dengan menegaskan bahwa ‘kemunculan koperasi-koperasi pertanian dan pengelompokan-pengelompokan mereka ke dalam serikat-serikat buruh haruslah menjadi sebuah fenomena yang bersifat spontan’. Dan beberapa bulan kemudian, Gramsci berhadapan dengan problem fundamental mengenai relasi antara serikat-serikat buruh dan partai.

Konfederasi Buruh (General Confederation of Labour) berada di tangan kaum reformis, di tangan ‘elemen-elemen borjuis kecil’ dan turut berperanan dalam memperkuat sistem kapitalis. Inilah yang menjadi alasan mengapa terjadi konflik antara CGL dan partai, yaitu konflik antara sebuah organisme yang berupaya untuk menyembunyikan dirinya ‘di bawah kedok efisiensi teknik’ dengan sebuah organisme yang berupaya untuk terlibat dalam politik di arena perjuangan kelas.

Di sisi lain, konflik ini tak akan dan tak akan mungkin bisa menjadi krisis yang bersifat meluas karena krisis dalam tubuh CGL hanya merupakan krisis dari para pemimpinnya, dan karena itu bisa dengan mudah diselesaikan jika seluruh kamerad telah memutuskan untuk berpartisipasi secara lebih aktif dalam kehidupan dan perjuangan serikat buruh.

Bahasan historis mengenai asal-usul, batas-batas dan fungsi dari serikat-serikat buruh menjadi berkembang seiring dengan munculnya mingguan Ordine Nuovo. Serikat buruh, kata Gramsci, berjasa dalam mengorganisir secara pertama kali kelas buruh dan perjuangan kelas, namun karena struktur mereka sendiri, mereka tak bisa bekerja demi sebuah tujuan revolusioner, yaitu perebutan kekuasaan. Sayangnya, seluruh pencapaian yang telah dicapai oleh serikat buruh sejauh ini malah membuat tatanan yang ada, hak milik pribadi dihargai. ‘Jam kerja delapan jam per hari, kenaikan gaji, dan keuntungan-keuntungan yang didapat dari undang-undang yang tidak mengancam laba.’

Para pemilik hak milik pribadi yang borjuis tentu saja memiliki cara-cara yang berlimpah untuk memindahkan beban ‘meningkatnya biaya-biaya umum dari produksi industri baik kepada massa cair dalam negeri maupun kepada masyarakat jajahan’. Paham “serikat buruh-isme” telah mengikuti jalan yang dibangun di atas landasan niat baik, namun yang penuh dengan ilusi yang maha besar.

Orang tak bisa berharap akan bisa mentransformasi sebuah situasi obyektif dengan cara melakukan reformasi-reformasi kecil-kecilan atau bahkan dengan konsesi-konsesi yang bisa dirampas begitu saja setelah perjuangan berat bulan demi bulan: ‘Kediktatoran proletariat ingin menggulingkan tatanan produksi yang kapitalis, ingin menghapuskan hak milik pribadi, karena hanya dengan ini, eksploitasi atas manusia bisa dihapuskan. Kediktatoran proletariat ingin menghapuskan perbedaan kelas, ingin menghapuskan perjuangan kelas karena hanya dengan begitu emansipasi kelas buruh bisa lengkap.’ 

Karena itu, adalah perlu untuk berjuang mentransformasi esensi dari serikat-serikat buruh (yaitu dalam hal fokus perjuangan mereka pada  isu-isu mengenai ‘roti dan mentega’ saja!), dan menyingkirkan dari posisi kepemimpinan ‘beberapa individu’ (yaitu inteligensia yang terbatas) yang pada saatnya akan bisa melemahkan kehendak massa’. Adalah perlu barangkali untuk memahami bahwa ‘paham “serikat buruh-isme” hanya bisa revolusioner ketika ada kemungkinan gramatikal untuk mengkombinasikan antara dua kata tersebut, yaitu serikat buruh dan revolusioner’.


Orang harus sadar bahwa dalam proses perkembangannya, paham serikat buruh-isme telah memperlihatkan diri sebagai sebuah bagian dari masyarakat borjuis, dan bukan sebagai sebuah perjuangan melawan masyarakat borjuis atau sebagai sebuah cara untuk menaklukkan masyarakat borjuis. Kita harus memulai lagi dari unit yang fundamental, yaitu dari pekerja yang sanggup ‘memahami dirinya sendiri sebagai seorang produsen’, yang sanggup melihat dirinya sendiri sebagai bagian dari proses produksi secara umum, dan yang tak pernah melupakan seluruh saudara sesama buruh, seluruh buruh dan rasa kolektivitas buruh.

Maka, adalah perlu untuk menentang bentuk paham serikat buruh yang reformis dan bentuk paham serikat buruh yang revolusioner semu. Paham individualisme dan pribadi harus diatasi, dan adalah perlu untuk memulai sebuah proses historis yang besar dimana di dalamnya massa buruh menjadi sadar akan kesatuannya yang tak terpisahkan yang didasarkan pada produksi, pada aksi kerja yang kongkret, dan memberi bentuk organik terhadap kesadaran ini dengan jalan membangun hirarki bagi dirinya sendiri. Ini merupakan sebuah proses historis yang maha besar yang ‘akan secara tak terelakkan berpuncak dalam kediktatoran kaum proletariat, dalam Komunis Internasional’.

Sudah tiba saatnya bagi kelahiran gerakan delegasi bengkel kerja di Turin, kelahiran dewan-dewan pabrik di Turin.. Dan Gramsci sendirilah yang mengkaitkan gerakan ini dengan pengalaman Lenin: ‘Konsepsi sistem dewan-dewan pabrik yang dibentuk di atas dasar massa buruh yang diorganisir sesuai dengan tempat kerja, dengan unit-unit produksi, mengambil inspirasinya dari pengalaman historis yang kongkret kaum proletariat Rusia’.

SERIKAT BURUH: HUBUNGAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI (BAGIAN 1)

SERIKAT BURUH: HUBUNGAN ANTARA SERIKAT BURUH DAN PARTAI

‘Jika serikat-serikat buruh telah memilih secara spontan seorang anggota partai sebagai pemimpin mereka, itu berarti bahwa serikat-serikat buruh itu secara sukarela bersedia menerima arahan-arahan dari partai.’
(Gramsci, dalam Passato e presente)

Catatan-catatan penting Gramsci mengenai serikat buruh, dan relasi antar serikat buruh, serta mengenai relasi hakiki antara serikat buruh dan partai ditulis hampir seluruhnya selama periode antara tahun 1919 dan 1922. Catatan-catatan itu dimuat dalam mingguan atau harian Ordine Nuovo pada saat ketika keputusan untuk menanggalkan paham reformisme dalam tubuh Partai Sosialis dan untuk membentuk sebuah partai yang revolusioner telah menjadi matang dalam pemikiran Gramsci dan yang lainnya.

Namun, terdapat catatan-catatan menarik mengenai tema ini, termasuk dalam Prison Notebooks -yang karena alasan-alasan yang bisa dimaklumi karena adanya sensor politik dan yang terutama karena pengunduran diri Gramsci dari dunia politik aktif, menjadikan catatan-catatan Notebooks mengenai tema ini tampak jauh berbeda dari watak dari yang sebelumnya.

 Ada begitu banyak polemik, terutama dalam tahun-tahun terakhir ini, mengenai dewan pabrik dan mengenai arti penting dari konsep ini dan dari perealisasian konsep tersebut bagi Gramsci. Tanpa berniat untuk menyangkal bahwa dewan-dewan pabrik merupakan ide par excellence (ide terbaik) dimana di seputar ide itu, pertempuran politik dan perjuangan kultural dari mingguan Ordine Nuovo berlangsung -karena Gramsci sendiri membenarkan hal itu,- perlu dikatakan dengan segera bahwa arti penting dari ide tersebut telah terlalu dilebih-lebihkan.

Gramsci memang menyajikan solusi-solusi yang brilyan dan bernilai baru terhadap problem-problem lain seperti aliansi antara kaum buruh dan kaum petani, penelitian tentang peran yang dimainkan oleh para intelektual dalam sejarah Italia, dsb, namun sejauh mengenai dewan-dewan pabrik, solusi yang diajukannya barangkali terlihat menarik dan bernilai, namun hanya terbatas pada dunia Turin dan pada tahun-tahun selama Gramsci turut dalam dunia politik.

Dalam tahun-tahun yang lebih kemudian, pada saat dia menjadi seorang pemimpin dan kemudian sekretaris Partai Komunis, Gramsci jarang membicarakan tentang dewan-dewan pabrik. Dia juga tak menyebut secara langsung ide mengenai dewan-dewan pabrik dalam Prison Notebooks meski Notebooks telah menjadikan sebagai pusat bahasannya tema-tema (seperti kaum intelektual, partai, hegemoni) yang telah ditetapkan dan dikembangkan Gramsci selama masa penempaan politiknya pada masa-masa perjuangan.


Penjelasan di atas perlu disebutkan. Namun, penjelasan ini diajukan bukan dalam rangka seperti yang dilakukan dalam perdebatan tanpa hasil yang baru-baru ini berlangsung antara para sejarawan dan para sarjana yang mempelajari karya-karya Gramsci yang terbelah menjadi dua pihak dalam hal mengenai garis ‘Leninis’ yang murni dalam argumen Gramsci di sana-sini. Sebenarnya, pembacaan secara sekilas terhadap karya 

Gramsci sudah cukup untuk membuat orang menjadi segera sadar bahwa, dengan pengecualian beberapa catatan dalam Passato e presente, bahasan tentang serikat-serikat buruh dan relasi mereka dengan partai, dan mengenai dewan-dewan pabrik hampir tak ada sama sekali dalam seluruh isi Notebooks dan juga sebagian besar tak muncul dalam artikel-artikelnya yang dimuat sebelum atau setelah dimuatnya artikel-artikel tentang tema-tema tersebut dalam L’Ordine Nuovo.

Tuesday, 1 August 2017

SURAT DISPENSASI/KERINGANAN TOEFL ATAU TEP

Tugas Kuliah Teknik mesin - Sahabat sekalian tahu kan bahwa untuk lulus kuliah itu ada beberapa syarat yang harus dilewati. Syarat-syarat tersebut tentu tidak semuanya mudah tidak pula semuanya sulit.
Sahabat pernah mendengar TEP, TOEFL, ITP dan sebangsanya lah. Hampir disemua Universitas mencantumkan syarat kelulusan, syarat yudisium, bahkan ada pula yang menjadikanya sebagai syarat sidang skripsi.
Nah bijimana jika waktu kuliah sudah sekarat, menjadi LEGEND alias sudah mau di DO akan tetapi TEP,TOEFL belum lulus? BELUM LULUS TOEFL,TEP

Jurus terakhir adalah sekuat melas menawar kebijakan ke birokrasi supaya dapat dispensasi. Untuk proses tawar menawar tersebut tentu dibutuhkan hitam diatas putih supaya ada rekapan atau bukti otentik.

Berikut ini kami sajikan contoh surat tawar menawar tersebut, dimana tetap bisa lulus namun dengan syarat tertentu.



SURAT PERNYATAAN



Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama
:
The Legend
NIM
:
050*********
Program Studi
:
S1 Pendidikan Teknik Mesin Otomotif


Dengan ini menyatakan bahwa sanggup menyelesaikan T.E.P dengan nilai minimal 400 sesuai syarat yang telah ditentukan oleh Fakultas Teknik. Berikut saya lampirkan daftar riwayat mengikuti T.E.P.  yang telah saya lakukan.
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebagaimana mestinya dan digunakan untuk syarat mendapatkan STL. Atas kerjasama dan perhatianya saya ucapkan terima kasih.







                                                                                                Surabaya, 10 Mei 2010
Yang Menyatakan,




The Legend
05**********




Semoga sahabat semua lulus dan dapat menyelesaikan kuliah dengan lancar tanpa suatu halangan apaun ya. Dijauhkan dari coretan dosen yang tak bisa dibaca juga. Aamiin


Terimakasih telah berkunjung dihalaman Tugas Kuliah Teknik Mesin.
Silahkan berlangganan untuk mendapatkan update dari halaman ini.
Silahkan tulis komentar jika ada request, kritik, saran ataupun pujian.
(TkTM/SA)

Monday, 17 July 2017

ASMAUL HUSNA BESERTA ARTINYA LENGKAP

ASMAUL HUSNA DAN ARTINYA
1. YA ROHMAAN  Artinya Yang Maha Pemurah

2. YA ROHIIM  Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

3. YA MALIK  Artinya Yang Maha Menguasai / Merajai

4. YA QUDUUS  Artinya Yang Maha Suci

5. YA SALAAM Artinya Yang Maha Selamat

6.  YA MU'MIN Artinya Yang Maha Melimpahkan Keamanan

7. YA MUHAIMIN  Artinya Yang Maha Memelihara / Mengawasi

8. YA AZIIZ  Artinya Yang Maha Berkuasa / Ynag Dapat Mengalahkan

9.  YA JABBAAR Artinya Yang Maha Perkasa / Menundukkan Segalanya

10. YA MUTAKABBIR  Artinya Yang Mempunyai kebesaran.

11.  YA KHOLIQ Artinya Yang Maha Pencipta

12. YA BAARI'  Artinya Yang Maha Menjadikan / Melepaskan

13. YA MUSHOWWIR  Artinya Yang Maha Pembentuk

14. YA GHOFFAAR Artinya Yang Maha Pengampun

15. YA QOHHAAR  Artinya Yang Maha Memaksa

16. YA WAHHAAB  Artinya Yang Maha Penganugerah / Pengkarunia

17. YA ROZZAAQ   Artinya Yang Maha Pemberi Rezeki

18. YA FATTAAH Artinya Yang Maha Pembuka

19. YA 'ALIIM  Artinya Yang Maha Mengetahui

20. YA QOBBIDH Artinya Yang Maha Pengekang / Menyempitkan Rezeki

21. YA BAASITH Artinya Yang Maha Melimpah Nikmat / Melapangkan Rizki

22. YA KHOOFIDH Artinya Yang Maha Perendah / Merendahkan Derajat

23. YA ROOFI' Artinya Yang Maha Peninggi / Meninggikan Derajat

24. YA MU'IZZ Artinya Yang Maha Menghormati / Memuliakan

25. YA MUDZILL Artinya Yang Maha Menghina

26. YA SAMI' Artinya Yang Maha Mendengar

27. YA BASHIIR Artinya Yang Maha Melihat

28. YA HAKAM Artinya Yang Maha Mengadili / Menetapkan Hukum

29. YA ' ADL Artinya Yang Maha Adil

30. YA LATIIF Artinya Yang Maha Lembut/Halus

31. YA KHOBIR Artinya Yang Maha Waspada

32. YA HALIIM  Artinya Yang Maha Penyabar

33. YA 'AZHIIM Artinya Yang Maha Agung

34. YA GHOFUUR Artinya Yang Maha Pengampun

35. YA SYAKUUR Artinya Yang Maha Bersyukur / Berterima Kasih

36. YA ' ALIYY   Artinya Yang Maha Tinggi

37. YA KABIIR   Artinya Yang Maha Besar

38. YA HAFIIDH  Artinya Yang Maha Memelihara

39. YA MUQIIT  Artinya Yang Maha Menjaga / Memberikan Makan

40. YA HASIIB  Artinya Yang Maha Penghitung

41. YA KHOOFIDH  Artinya Yang Mempunyai Kebesaran

42. YA KARIIM  Artinya Yang Maha Mulia

43. YA ROQIIB  Artinya Yang Maha Waspada / Mengawasi

44. YA MUJIIB  Artinya Yang Maha Pengkabul

45. YA WAASI'  Artinya Yang Maha Luas

46. YA HAKIIM  Artinya Yang Maha Bijaksana

47. YA WADUUD  Artinya Yang Maha Mengasihi / Penyayang

48. YA MAJIID  Artinya Yang Maha Mulia

49. YA BAA'ITS  Artinya Yang Maha Membangkitkan Semula

50. YA SYAHIID  Artinya Yang Maha Menyaksikan

51. YA HAQQ   Artinya Yang Maha Benar

52. YA WAKIIL  Artinya Yang Maha Pentabir / Mengurusi

53. YA QOWIIY  Artinya Yang Maha Kuat

54. YA MATTIN  Artinya Yang Maha Teguh / Kokoh

55. YA WALIY  Artinya Yang Maha Melindungi

56. YA HAMID    Artinya Yang Maha Terpuji

57. YA MUHSI' Artinya Yang Maha Penghitung

58. YA MUBDI'  Artinya Yang Maha Pencipta dari Asal / Memulai

59. YA MU'IID  Artinya Yang Maha Mengembalikan

60. YA MUHYI  Artinya Yang Maha Menghidupkan

61. YA MUMIT Artinya Yang Mematikan

62. YA HAYYU Artinya Yang Maha Hidup

63. YA QOYYUM Artinya Yang Hidup serta Berdiri Sendiri

64. YA WAJIID  Artinya Yang Maha Penemu

65.YA MAJIID   Artinya Yang Maha Mulia

66. YA WAHIID  Artinya Yang Maha Esa

67. YA AHADD Artinya Yang Tunggal

68. YA SHOMADD Artinya Yang Menjadi Tumpuan

69. YA QODIIR  Artinya Yang Maha Berupaya

70. YA MUKTADIR  Artinya Yang Maha Berkuasa

71. YA MUQODDIM Artinya Yang Maha Mendahului

72. YA MU'AKHIR   Artinya Yang Maha Mengakhiri / Penangguh

73. YA AWWAL Artinya Yang Pertama

74. YA AKHIR  Artinya Yang Akhir

75. YA ZHOHIIR  Artinya Yang Zahir

76. YA BATHIN  Artinya Yang Batin / Tak Kelihatan Dzatnya

77. YA WALI  Artinya Yang Memerintah / Menguasai

78. YA MUTA'ALI   Artinya Yang Maha Tinggi serta Mulia

79. YA BARR'   Artinya Yang banyak membuat kebajikan / Kebaikan

80. YA TAWWAB Artinya Yang Menerima Taubat

81. YA MUNTAQIM Artinya Yang Maha Memberi Hukuman / Siksaan

82. YA 'AFUWW Artinya Yang Maha Pengampun

83. YA RO'UFArtinya Yang Maha Pengasih serta Penyayang

84. YA MALIKUL MULK  Artinya Pemilik Kedaulatan Yang Kekal / Memiliki Kerajaan

85. YA DZAL JALAALI WAL IKROOM) Artinya Yang Mempunyai Keagungan dan Kemuliaan

86. ) YA MUQSITH  Artinya Yang Maha Adil

87. YA JAMI'  Artinya Yang Maha Mengumpulkan

88. YA GHONIYY'  Artinya Yang Maha Kaya

89. YA MUGHNI    Artinya Yang Maha Memberi Kekayaan

90. YA MAANI'  Artinya Yang Maha Pencegah / Mempertahankan

91. YA DHOORRU'  Artinya Yang Mendatangkan Mudharat / Bahaya

92. YA NAFI'  Artinya Yang Memberi Manfaat

93. YA NUR   Artinya Memberi Cahaya

94. YA HADII  Artinya Yang Memimpin dan Memberi Pertunjuk

95. YA BADI' Artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada BandinganNya

96. YA BAQI  Artinya Yang Maha Kekal

97. YA WARITS Artinya Yang Maha Mewarisi

98. YA RASYID  Artinya Yang Maha Pandai

99. YA SHOBUUR  Artinya Yang Maha Penyabar / Sabar

KODE CHAT FACEBOOK KEREN

HAI GANTENG

[[471733766201332]] [[471733759534666]] [[471733772867998]] [[471733769534665]]
[[471733762867999]] [[471733832867992]] [[471733836201325]] [[471733839534658]]
[[471733842867991]] [[471733846201324]] [[471733929534649]] [[471733919534650]]
[[471733916201317]] [[471733926201316]] [[471733922867983]] [[471733996201309]]
[[471734009534641]] [[471733999534642]] [[471734006201308]] [[471734002867975]]
[[471734086201300]] [[471734082867967]] [[471734092867966]] [[471734089534633]]

LOE SIAPA

[[454930431219219]] [[454930441219218]] [[454930437885885]] [[454930434552552]]
[[454930427885886]] [[454930504552545]] [[454930501219212]] [[454930507885878]]
[[454930511219211]] [[454930497885879]] [[454930584552537]] [[454930581219204]]
[[454930577885871]] [[454930574552538]] [[454930587885870]] [[454930667885862]]
[[454930677885861]] [[454930671219195]] [[454930674552528]] [[454930681219194]]
[[454930764552519]] [[454930767885852]] [[454930771219185]] [[454930761219186]]

ASALAMUALAIKUM

[[491996837501070]] [[491996834167737]] [[491996840834403]] [[491996844167736]]
[[491996830834404]] [[491996910834396]] [[491996900834397]] [[491996907501063]]
[[491996904167730]] [[491996914167729]] [[491997007501053]] [[491996997501054]]
[[491997004167720]] [[491997000834387]] [[491997010834386]] [[491997070834380]]
[[491997074167713]] [[491997080834379]] [[491997067501047]] [[491997077501046]]
[[491997140834373]] [[491997147501039]] [[491997137501040]] [[491997144167706]]

AHAHAHHAY

[[454900144555581]] [[454900147888914]] [[454900151222247]] [[454900157888913]] [[454900154555580]] [[454900231222239]] [[454900237888905]]
[[454900241222238]] [[454900244555571]] [[454900234555572]] [[454900321222230]] [[454900327888896]] [[454900324555563]] [[454900334555562]]
[[454900331222229]] [[454900404555555]] [[454900401222222]] [[454900407888888]] [[454900411222221]] [[454900414555554]] [[454900507888878]]
[[454900494555546]] [[454900504555545]] [[454900501222212]] [[454900497888879]] [[454900567888872]] [[454900571222205]] [[454900574555538]]

MUKE GILE

[[353106138115989]] [[353106148115988]] [[353106144782655]] [[353106141449322]] [[353106151449321]] [[353106214782648]]
[[353106211449315]] [[353106218115981]] [[353106221449314]] [[353106224782647]] [[353106294782640]] [[353106298115973]]
[[353106304782639]] [[353106301449306]] [[353106291449307]] [[353106384782631]] [[353106378115965]] [[353106391449297]]
[[353106388115964]] [[353106381449298]] [[353106468115956]] [[353106464782623]] [[353106458115957]] [[353106461449290]]
[[353106454782624]] [[353106524782617]] [[353106528115950]] [[353106531449283]] [[353106534782616]] [[353106538115949]]

HIHIHI

[[454901821222080]] [[454901817888747]] [[454901814555414]] [[454901811222081]] [[454901807888748]]
[[454901881222074]] [[454901887888740]] [[454901884555407]] [[454901891222073]] [[454901894555406]]
[[454901971222065]] [[454901964555399]] [[454901974555398]] [[454901967888732]] [[454901977888731]]
[[454902057888723]] [[454902061222056]] [[454902064555389]] [[454902054555390]] [[454902067888722]]
[[454902137888715]] [[454902141222048]] [[454902144555381]] [[454902147888714]] [[454902151222047]]
[[454902221222040]] [[454902217888707]] [[454902214555374]] [[454902227888706]] [[454902224555373]]

GUE LAGI GALAU

[[283545891748453]] [[283545881748454]] [[283545888415120]] [[283545885081787]]
[[283545895081786]] [[283545951748447]] [[283545955081780]] [[283545965081779]]
[[283545961748446]] [[283545968415112]] [[283546028415106]] [[283546031748439]]
[[283546038415105]] [[283546035081772]] [[283546041748438]] [[283546121748430]]
[[283546108415098]] [[283546118415097]] [[283546115081764]] [[283546111748431]]
[[283546208415088]] [[283546201748422]] [[283546205081755]] [[283546198415089]]

Gue Dah Ngantuk Nih

[[471707209537321]] [[471707202870655]] [[471707212870654]] [[471707199537322]] [[471707206203988]] [[471707276203981]] [[471707282870647]] [[471707289537313]]
[[471707286203980]] [[471707279537314]] [[471707359537306]] [[471707356203973]] [[471707352870640]] [[471707346203974]] [[471707349537307]] [[471707426203966]]
[[471707436203965]] [[471707432870632]] [[471707439537298]] [[471707429537299]] [[471707516203957]] [[471707512870624]] [[471707506203958]] [[471707509537291]]
[[471707519537290]] [[471707579537284]] [[471707582870617]] [[471707592870616]] [[471707589537283]] [[471707586203950]] [[471707652870610]] [[471707656203943]]

Saturday, 15 April 2017

MUNGKINKAH INI BERAKHIRNYA KEJAYAAN YOUTUBERS?

Indonesiaviralnews - Sahabat viral yang menggeluti di dunia Youtube, ada info terbaru mengenai kebijakan youtube. 

Berikut ini adalah rangkuman pernyataan resmi dari tim youtube lewab websitenya. 

Semenjak didirikannya Youtube Partner Program (YPP) yang berdiri semenjak tahun 2007, sudah terdapat jutaan creator youtube. Dengan perkembangan yang pesat ini, terdapat banyak kasus-kasus yang ada didalamnya. Beberapa diantaranya seperti kasus pelecehan, konten asli yang di re-upload oleh pihak-pihak yang hanya menginginkan keuntungan dari konten tersebut dan lain sebagainya. 

Beberapa kasus tersebut, pihak youtube telah membuat agar channel tersebut dapat dilaporkan agar penghasilan yang didapatkan hanya untuk pemilik konten asli. Dengan program seperti ini, pihak youtube telah memblokir ratusan ribu channel maupun creator youtube. Namun Sekarang terdapat langkah lain dari pihak youtube yaitu untuk dapat bermitra dengan YPP dan agar dapat di monetisasi channel mereka, harus memiliki 10.000 penonton. Hal ini terhitung semenjak tanggal 6 April 2017 dalam laman blog youtube.


Hal ini merupakan langkah untuk mengantisipasi adanya channel nakal yang hanya re-upload konten tersebut. Jadi jika jumlah penonton dibawah 10.000 maka video tersebut tidak bisa dimonetisasi. Untuk itu marilah ciptakan video asli dan kreatif hasil karya sendiri.

Nah bagi reuploaders pasti banyak minder dan putus asa karena kebijakan ini. Namun bagi youtuber tentu masih banyak jalan untuk Payout 1000 dolar perbulan.  (Bgz/IvN)