Showing posts with label TEKNOLOGI. Show all posts
Showing posts with label TEKNOLOGI. Show all posts

Friday, 11 August 2017

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 7)

Catatan-catatan sosial kecil dalam koran-koran, bahkan dalam koran-koran kecil, telah merangsang refleksi-refleksi yang menarik dan membawa orang kepada pemikiran-pemikiran mendalam. Segala sesuatu memiliki cita rasanya sendiri, kebenarannya sendiri. Saat membaca catatan-catatan statistik resmi, Gramsci menulis (terasa agak ironi juga karena harian Ordine Nuovo terpaksa menerbitkan catatan-catatan statistik itu dalam kolom-kolomnya seperti yang dilakukan oleh koran-koran lain atas dasar kengototan para pembacanya) berita-berita atau ide-ide yang menarik.

‘Di satu sisi, kaum borjuis dan di sisi lain, kaum proletariat ada dalam catatan statistik ini sebagaimana halnya ada dalam kota imajiner yang diciptakan oleh Wells dimana sedikit demi sedikit, dua wujud kemanusiaan meningkat pesat jumlahnya tanpa ada kontak sama sekali di antara keduanya. Hasil pengamatan pertama menunjukkan bahwa ada banyak buruh muda yang menikah, yang memiliki keberanian untuk menghadapi kehidupan, sementara ada sangat sedikit anak muda dari kelas menengah yang melakukan hal yang sama, hanya satu dari sepuluh orang.

‘Jika diamati lebih jauh, sementara sangat jarang bagi seorang buruh muda untuk menikahi seorang wanita dari lapisan kelas menengah, hal sebaliknya sering terjadi. Apa sebabnya? Barangkali karena fakta bahwa para buruh merasa lebih kuat ikatan karakteristik dan asal-usulnya sebagai kelas buruh, dan terhadap wanita-wanita borjuis, mereka merasa acuh tak acuh, jika bukannya memusuhi.’ Namun, ada yang lebih membingungkan dalam catatan-catatan statistik resmi tersebut”

‘Lihat bagaimana keungggulan para buruh terampil cenderung terjaga dalam hal memilih pasangan hidup, dan yang terutama lihat bagaimana kelompok semi-proletariat mempertahankan karakteristik mereka, bagaimana kelompok anggota kelas menengah merasa malu disebut sebagai buruh, bagaimana para buruh yang sangat ingin hidup seperti halnya kelas menengah dan yang jika gagal mencapainya lewat pekerjaan, akan berusaha untuk mengangkat taraf diri mereka dengan menikahi seorang “intelektual” ketimbang seorang kamerad sesama buruh.’ Tentu saja, sudah jelas apa yang hendak dikatakan oleh Gramsci.

Hal tersebut merupakan sebuah contoh dari bagaimana, bahkan dari pembacaan atas kolom nama dan jumlah, kita bisa menarik pelajaran mengenai sejarah kelas dan mengembangkan sebuah pelajaran berharga darinya bagi siapa saja: ‘Bahkan catatan statistik yang paling kering dan paling monoton pun menjalani kehidupan yang sama sebagaimana semua fakta yang membentuknya.’

 Di samping itu, masa tersebut merupakan sebuah periode dimana perbincangan mengenai keluarga, mengenai arti penting wanita dalam keluarga dan dalam masyarakat, mengenai kehidupan seksual dan pernikahan menyebar luas. Persoalan seksual terutama menjadi ‘obsesi’ yang luas. Barangkali hal ini terkait dengan bentuk keterpisahan tertentu antara kota dan pedesaan yang kita saksikan dalam masa kita, kata Gramsci. Tentu, bukan kebetulan bahwa semua buku ‘utopia’ memimpikan sebuah masyarakat yang didasarkan pada komunisme primitif, dimana persoalan seksual ‘harus memainkan peran yang sangat besar’.

Bahkan harus diingat, reproduksi sendiri memiliki sebuah ‘fungsi ekonomi’. Namun persoalan seksual membawa dalam dirinya persoalan lain, barangkali persoalan yang lebih penting, ‘yaitu persoalan pembentukan sebuah kepribadian feminin yang baru’. Kaum wanita harus memiliki posisi yang berbeda dalam ranah keluarga dan masyarakat. ‘Sepanjang kaum wanita bukan saja belum mencapai kemandiriannya yang riil dari kaum pria, namun juga konsepsi baru atas diri mereka dan peran mereka dalam hubungan seksual, maka persoalan seksual akan tetap penuh dengan karakteristik yang tak sehat. Karena itu untuk bersikap hati-hati dalam melakukan perubahan dalam perundang-undangan.’

Posisi wanita dalam keluarga dan dalam masyarakat pada masa-masa itu sungguh sulit. Ketidakamanan dan ketidakstabilan yang dirasakan oleh kaum wanita menjadi bukti akan hal ini. Bukan hanya wanita yang telah menikah, yang menjadi kepala keluarga dengan beberapa anak, yang tak sanggup memahami sesuatu yang lebih jauh di luar rasa cinta kasih mereka yang kuat terhadap anak-anaknya. ‘Ibu tak boleh merasa khawatir, dan ibu harus berpikiran bahwa saya dalam keadaan damai.

Oh! Ibu-ibu yang terlalu mengasihi anaknya! Jika saja dunia ini selalu berada di tangan ibu-ibu yang demikian, maka para laki-laki akan tinggal di gua-gua dan berpakaian kulit kambing!’ tulis Gramsci kepada ibunya pada tanggal 7 November 1927; namun juga wanita yang belum menikah tampaknya hanya melulu tahu tentang tugas ‘keibuan’-nya, dan tak sanggup memahami problem-problem sosial yang melingkupinya yang tak berdampak langsung terhadap dirinya.

‘Segala sesuatu,’ tulis Gramsci sekali lagi kepada ibunya pada tanggal 1 Februari 1932 menyinggung masalah keponakan perempuannya, Mea, ‘terletak dalam kemauan baik dan ambisinya dalam artian yang baik. Selain itu, dunia tak akan runtuh jika dia menghabiskan waktunya di Ghilarza, hanya duduk-duduk merajut karena tak memiliki keinginan untuk berusaha mencapai keberhasilan dalam melakukan sesuatu secara lebih baik dan lebih brilyan. Saya tak tahu apakah dia menjadi anggota organisasi pemudi Fasis.

Saya rasa begitu, meskipun ibu tak pernah menulis tentangnya kepadaku, dan saya membayangkan bahwa dia memang memiliki beberapa ketertarikan dalam pertunjukan-pertunjukan semacam itu. Jadi, dia akan menjalani takdir yang sama seperti para pemudi Italia lainnya, yaitu menjadi ibu yang baik buat keluarganya, seperti sebutan buat mereka. Mereka menjalani takdir demikian karena menikahi orang pandir, yang sesungguhnya belum tentu pandir karena sebenarnya orang pandir hanya ingin menikahi ayam-ayam betina yang berasal dari negeri-negeri Skandinavia dan kaya-raya.’

Gramsci sendiri secara pribadi sangat menghormati pribadi wanita. Rasa sayangnya dan rasa hormatnya kepada ibunya dan saudara ipar perempuannya tampak jelas dari kehidupan dan dalam surat-suratnya. Memang masih harus dinilai secara umum sikap ‘teoretis’-nya terhadap wanita yang bagi kita, -para pembaca di sebuah masa yang telah mengalami perubahan-perubahan secara begitu cepat, termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan kita,- mungkin tampak begitu terbatas.


PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 6)

Koran-koran ‘independen’ kadangkala menjadi corong dari beberapa ‘kekuatan-kekuatan tahayul’ yang memiliki kepentingan untuk memunculkan ‘gerakan-gerakan opini publik yang liar sepanjang waktu.’ Sejarah Negara Italia juga adalah sejarah bagaimana ‘Negara, ketika berkeinginan untuk memulai sebuah aksi populer, menciptakan sebelumnya opini publik yang dibutuhkannya’.

Dengan kata lain, negara Italia menjalankan serangkaian operasi yang mengijinkannya untuk mengorganisir elemen-elemen civil society yang dibutuhkannya. Apa yang biasanya ditunjuk oleh frase ‘opini publik’ barangkali memang telah selalu ada dalam tingkatan tertentu, bahkan di negeri-negeri timur; namun dalam artian tertentu, frase itu muncul hanya setelah keruntuhan dan lenyapnya Negara-negara absolutis.

Dalam periode yang bersamaan, kaum borjuis yang pada saat itu telah cukup kuat sudut pandang ekonomisnya, berupaya juga untuk merebut kekuasaan politik. Problem fundamentalnya ialah untuk bisa membuat semua opini publik berpihak kepada negara borjuis: ‘Karena itu, muncul pertarungan demi monopoli  atas organ-organ opini publik: seperti koran, partai, parlemen, sehingga sebuah kekuatan tunggal akan bisa membentuk opini dan juga kehendak politik nasional, dan memotong-motong seluruh perbedaan pendapat menjadi partikel-partikel yang bersifat individual dan non-organik.’


Baru-baru ini, kata Gramsci dengan merujuk pada situasi periode dimana dia menulis (namun itu tak berarti tak bernilai dan tak bisa diterapkan untuk konteks saat ini), muncul dua elemen baru yang mengacaukan rencana-rencana yang telah dibuat sebelumnya oleh partai-partai tradisional untuk memonopoli opini publik: yaitu pers gosip dan radio. Kedua elemen baru ini, karena populeritas dan ‘kecepatan peredarannya’ memiliki kemampuan untuk ‘merangsang munculnya letupan-letupan kepanikan atau antusiasme fiktif yang spontan yang memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan yang telah ditentukan, sebagai misal dalam pemilu’.

Situasi letupan spontanitas ini bisa terjadi karena kedaulatan umum dipandang sebagai sesuatu yang dijalankan hanya pada selang-selang waktu yang reguler, sepperti setiap tiga, empat atau lima tahun. Maka, kemudian seluruh perhatian dari kelas yang berkuasa beralih kepada bagaimana menciptakan ‘supremasi ideologis’ (atau lebih tepatnya, supremasi emosional) pada hari tertentu. Sesudah itu, selama tiga, empat atau lima tahun berikutnya, kelas ini akan terus melanjutkan kekuasaannya atas negeri ini.

Bahkan saat emosi tersebut diwujudkan dalam undan-undang, namun ‘massa pemilih telah menjadi berjarak dengan perwujudan legal dari dirinya (karena bangsa secara riil berbeda dari bangsa secara legal)’.[1] Apa yang bisa dilakukan oleh partai-partai untuk mencegah semua ini – semua manipulasi yang tak tahu malu atas opini publik? Tak banyak, barangkali bahkan lebih sedikit dari yang bisa dilakukan oleh serikat buruh yang bebas: ‘Salah satu problem teknik politik yang muncul saat ini, namun yang tak sanggup ditemukan penyelesaiannya oleh demokrasi, ialah berikut ini: yaitu menciptakan organ-organ perantara antara massa umum yang tak bisa diorganisir oleh serikat buruh (atau sulit untuk diorganisir), serikat-serikat buruh profesional, partai-partai politik dan dewan-dewan legislatif.’

‘Sosialisme masih sering ditampilkan sebagai musuh keluarga,’ begitu Gramsci mengawali sebuah artikel yang diterbitkan dalam Il Grido del Popolo yang terbit tanggal 9 Februari 1918. Komentar di atas ini merupakan salah satu komentar klise yang paling tersebar luas, terutama di kalangan strata penduduk yang tak bersimpati kepada kaum sosialis, dan yang di sisi lain di kalangan mereka yang tak cukup terdidik untuk mengetahui program kaum sosialis dan apa yang sebenarnya diperjuangkan kaum sosialis. Bagi kaum sosialis, keluarga merupakan ‘sebuah organisme moral’.

Keluarga menetapkan kewajiban-kewajiban moral yang pertama kepada individu dan ‘keluarga harus diintegrasikan kembali dalam fungsi moralnya yang satu, yaitu mempersiapkan manusia, mendidik warga’. Inilah yang menjadi pemikiran kaum sosialis, paling tidak mereka yang bukan merupakan ‘pemuja fanatik Negara’ dan mereka yang tidak percaya bahwa ‘dalam sebuah rezim sosialis, pendidikan anak-anak harus diserahkan kepada institusi-institusi Negara’.

Namun, pernahkah muncul dalam pemikiran bahwa dalam masyarakat borjuis, setiap individu harus memecahkan problem-problem kelangsungan hidupnya sendiri, problem anak-anak dan istrinya dengan sebuah sarana-sarana ‘solusi yang antimanusiawi’, dengan sarana perjuangan yang melawan individu-individu yang lain, dengan penguasaan hak istimewa yang secara niscaya didasarkan pada beban pundak manusia-manusia yang lain?

Penghapusan hak milik, di sisi lain, bisa ‘menjadikan keluarga menjadi apa yang ditakdirkan sebagai tujuan dirinya: yaitu sebagai organ dari kehidupan moral’.

x

[1] Ini merupakan sebuah ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana pemilu yang sangat dibatasi dijadikan dasar bagi Negara Italia. 

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 5)

Gramsci memberi judul Come deve essere fatto un giornale comunista pada salah satu artikelnya yang dimuat dalam harian Ordine Nuovo pada tanggal 31 Oktober 1921. Sebuah koran komunis, kata Gramsci, harus menemukan sebuah basis komunis yang luas yang mendukungnya secara aktif, bukan hanya dalam kata-kata, namun juga dengan tulisan dan aksi. Tanpa mereka sadari, kaum buruh rupanya masih terbawa untuk mengasimilasikan tendensi-tendensi borjuis kecil. Sebagai misal, mereka memandang koran dalam cara yang sama dengan kaum borjuis kecil memandang koran-koran mereka sendiri.

Ini merupakan problem ‘penggerogotam yang nyata terhadap kelas buruh’ yang obatnya harus ditemukan. Sebuah kerjasama yang aktif dan bernilai harus dijalankan, dan pembentukan sebuah ‘mata rantai permanen antara koran dan inti kaum proletariat yang merasakan dan mengalami problem-problem kelas secara keseluruhan’ sangat dibutuhkan. Mata rantai ini tak bisa dan tak boleh dibentuk antar individu, namun antara koran dan massa buruh, dengan segenap kekuatan organisasi yang mengorganisir gerakan kaum buruh berada di belakang sebagai pendukungnya.


Arti penting dari harian terhadap pendidikan, terhadap pembentukan kepribadian, dan terhadap ‘kebebasan’ individu untuk mengambil pilihan-pilihan yang menentukan tak boleh dilupakan. Media massa borjuis yang besar, yang disebut sebagai koran-koran independen, merupakan ‘tentara-tentara ideologis bayaran’ yang melayani kepentingan kapital, dan berperanan sebagai bagian dari perjuangan kelas, bagian yang penting.

Koran borjuis berperanan seperti halnya perusahaan komersial besar yang seluruh niatannya ialah “menyuling laba politik’. Kaum borjuis memiliki ribuan dan ribuan koran dan mesin cetak. Jadi, bisakah orang sunggguh-sungguh berbicara tentang kebebasan dalam sebuah Negara yang borjuis? Bisakah orang bisa sungguh-sungguh mengatakan bahwa sebuah parlemen yang dipilih dalam kondisi-kondisi demikian merepresentasikan ‘kebebasan’ kehendak dari bangsa?

‘Pers, bersama dengan partai-partai politik, merupakan bagian integral dari rezim parlementer demokratis yang terorganisir dengan baik. Jika pers gagal dalam tugasnya untuk menjadi sebuah organ kontrol opini publik yang tak memihak, siapa yang akan bisa melawan kesewenang-wenangan para pejabat?’ Namun, justru kelas menengahlah yang pertama kali sadar betul akan kekosongan dari ideal-ideal yang mendasari masyarakat mereka.

Merekalah yang pertama kali memahami betapa ideal-ideal tersebut tak memiliki substansi apapun yang nyata:‘Para jurnalis borjuis tahu semua ini, namun mereka membiarkan semua kebohongan itu terus berlangsung’.Mereka dengan sadar membiarkan setiap manipulasi atas kebenaran, fakta-fakta dan hati nurani.

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 4)

Belajar adalah sebuah kerja keras, dan tentu saja seorang anak yang belajar akan menjadi jemu, dan segala hal harus kita lakukan untuk mengurangi kerja keras itu ke tingkat minimum yang diperlukan. Namun kita juga harus meyakini bahwa ‘belajar adalah kerja perkembangan diri’, bukan hanya merupakan kerja manual yang hanya bisa diartikan sebagai bekerja dan kerja keras. Dengan kata lain, belajar mensyaratkan proses adaptasi yang besar-besaran lewat ‘usaha, rasa bosan, dan bahkan penderitaan’.

Sebuah sekolah menengah yang komprehensif, yang dijalani oleh banyak pelajar, ‘memiliki kecenderungan mengendur tingkat disiplin belajarnya dan kecenderungan munculnya tuntutan untuk “memberikan kelonggaran-kelonggaran”’. Banyak orang yang bahkan beranggapan bahwa ketidakmudahan-ketidakmudahan dalam disiplin belajar itu adalah sesuatu yang tidak perlu ada karena mereka terbiasa menganggap hanya kerja manual saja yang harus dijalani sebagai bekerja dan kerja keras.

Ambil contoh kasus anak dari sebuah keluarga intelektual. Sang anak tidak terlalu mendapati kesulitan untuk beradaptasi dengan proses bersekolah sama halnya dengan ‘anak seorang buruh perkotaan yang masuk ke pabrik jika dibandingkan dengan anak petani atau dengan seorang petani muda yang terbiasa dengan kehidupan pedesaan’. Tampak jelas apa yang menjadi fokus pemikiran Gramsci. Dia secara terus-menerus mengulang bahwa problem-problem pendidikan itu kompleks. Dia memang terkesan masih meraba-raba dan belum menemukan solusi ideal bagi problem sekolah dalam masyarakat komunis, sekolah di masa depan di Negara Buruh.

Problem-problemnya kompleks dan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi begitu besar ‘jika seseorang ingin menciptakan sebuah strata intelektual yang baru, yang akan mencakup mereka yang paling terampil dari kelompok sosial yang secara tradisional belum mengembangkan perilaku-perilaku yang tepat’.


 Lettere dal Carcere pun menjadi sebuah dokumen luar biasa untuk menghimpun ide-ide Gramsci mengenai pengajaran dari sudut situasi-situasi aktual karena dia, paling tidak via surat-suratnya, terlibat langsung dalam mendidik dan mengembangkan kepribadian anak-anaknya dan keponakan-keponakannya. Kerja pengembangan diri seorang pendidik adalah kerja yang tak mudah. Hanya orang yang bisa memahami anak-anak secara akrab dan bisa mendampingi mereka sepanjang gerak perkembangan mereka dan bisa memahami jalan mendidik yang mungkin terbaik, sepanjang dia tidak terbutakan oleh perasaan-perasaannya sendiri, tenggelam ke dalam perenungan yang semata-mata bersifat estetis mengenai anak karena hal ini secara implisit berarti mendegradasikan fungsi dari sebuah kerja seni’.

Sebuah kekeliruan yang harus dihindari (dan yang merupakan kekeliruan yang umum dilakukan) ialah percaya bahwa ‘dalam diri anak telah ada secara potensial manusia dewasa seutuhnya. Sehingga karena itu, yang perlu ialah membantunya mengembangkan apa yang telah ada secara laten tanpa paksaan, dan membiarkan kekuatan-kekuatan alam atau apapun yang bersifat spontan membentuknya’. Padahal, pembentukan manusia dewasa itu merupakan sesuatu yang bersifat historis, tumbuh dari paksaaan (yang tentu saja tidak boleh diartikan semata-mata sebagai kekerasan dari orang lain). Jika orang menolak pandangan kritis tersebut, ‘orang akan jatuh ke dalam paham transendentalisme atau imanentisime’.

Jika konsepsi pendidikan sebagai aktivitas ‘membantu tumbuhnya potensi laten yang telah ada’ ditolak dan kita tak lagi percaya akan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat imanen yang bisa muncul sejak dini, maka anak harus diarahkan secara tepat ke arah pembelajaran yang seimbang, ke arah ‘sebuah adaptasi harmonis dari seluruh fakultas intelektual dan praktis yang akan berkesempatan untuk menjadi terspesialisasi seiring waktu di atas dasar kepribadian yang kokoh yang terbentuk secara integral dan menyeluruh’.

Sangat sulit untuk menentukan apa yang baik dan apa yang buruk dalam bidang ini: ‘dalam realitas, saya hampir tak tahu apa-apa mengenai anak-anak, mengenai gerak perkembangan intelektual mereka, mengenai kehidupan kongkret mereka.’

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 3)

Setiap momen pedagogis memunculkan persoalan-persoalan yang berbeda-beda. Di sekolah-sekolah dasar, pendidikan anak-anak pada pokoknya harus mempernalkan gagasaan-gagasan awal mengenai ilmu alam dan gagasan-gagasan awal mengenai hak dan kewajiban warga negara. Dengan kata lain, prinsip pendidikan sekolah dasar ialah ‘konsep dan fakta mengenai pekerjaan (sebagai aktivitas teoretis-praktis)’.

Maka, upaya untuk memperkenalkan konsep hak dan kewajiban, dengan kata lain tatanan Negara dan sosial ke dalam tatanan alam membolehkan keduanya diidentikkan. Dengan menggunakan istilah gagasan, Gramsci sadar betul akan bahwa hal itu menimbulkan kontroversi, namun berjuang melawan metode pengajaran fakta-fakta semata-mata merupakan sebuah kekeliruan karena ‘tidaklah tepat bahwa pendidikan itu berbeda dari latihan berpikir’.

Sebagai misal, dalam tipe sekolah tradisional yang mengajarkan bahasa Latin, dianut sebuah nilai yang jauh lebih bersifat mendidik dan sebuah keberatan bahwa sekolah yang hanya mengajarkan apa yang telah mati adalah keliru. Sesungguhnya, ‘setiap analisis yang dilakukan oleh seorang anak muda memang hanya bisa menganai hal-hal yang mati’. Studi bahasa Latin tidak boleh menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, namun menjadi unsur yang merupakan bagian dari sebuah program skolastik yang ideal yang sanggup memuaskan kompleks kebutuhan yang bersifat psikologis dan pedagogis.

Pertempuran besar kaum sosialis karenanya merupakan sebuah pertempuran demi pembentukan sebuah sekolah komprehensif yang tidak akan melanggengkan pemisahan kelas atas masyarakat: ‘Sekolah tradisional berwatak oligarkis karena diperuntukkan buat generasi baru dari lapis penguasa, yang pada gilirannya juga akan berkuasa, namun sekolah tradisional juga berwatak tidak oligarkis karena metode pendidikannya.’

Karena itu, kaum soialis tak harus merestrukturisasi sistem pendidikan secara total, namun barangkali bisa menerima sebagian besar program-program dan solusi-solusi lama. Restrukturisasi akan bertujuan pada intinya menghapuskan setiap pemisahan, setiap penghalang ‘rasialis’ antara satu tipe sekolah dengan tipe sekolah yang lain.

Orang tak boleh membiarkan jalur pendikan yang satu dikhususkan bagi mereka semua yang akan menjadi kelas penguasa negeri ini, sementara jalur pendidikan yang lain dikhususkan untuk pelatihan kejuruan bagi para buruh, yang sejak awal dikecualikan dari kemungkinan untuk menjalankan fungsi ‘kepemimpinan’: ‘Karena itu, perbanyakan tipe sekolah kejuruan cenderung melanggengkan pembedaan-pembedaan yang bersifat tradisional.

Namun karena perbanyakan ini sendiri menghasilkan stratifikasi-stratifikasi internal dalam pembedaan tersebut sehingga kemudian tercipta kesan adanya tendensi yang bersifat demokratis dalam perbanyakan tersebut.’

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 2)

Gramsci memandang problem sekolah ini sebagai sebuah problem yang bersifat teknis sekaligus politik. Negara liberal tak memiliki kesanggupan untuk mengatasinya, bahkan tak memiliki kesanggupan untuk menyelaraskannya dengan kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuannya sendiri. Hal ini karena secara blak-blakan bisa dikatakan bahwa ‘kelas menengah menjalankan sekolah-sekolah demi tujuan-tujuan kekuasaannya’.

Sifat otonom ini sesungguhnya bisa menjadi keuntungan bagi sekolah-sekolah sepanjang sekolah-sekolah itu menjalin kontak dengan realitas. Namun alih-alih, kaum borjuis malah mengangkat menteri-menteri Pengajaran Umum semata-mata di atas dasar kriteria yang bersifat oportunistik. Kaum borjuis telah menyerahkan sekolah-sekolah kepada birokrat-birokrat, dan hanya mengejar terciptanya keseimbangan yang paling stabil antar berbagai klik dalam tubuh partai Pemerintahan atau partai-partai politik.

Sebaliknya, ‘di Negara dewan-dewan buruh, sekolah-sekolah ini merepresentasikan salah satu dari aktivitas-aktivitas publik yang paling penting dan esensial.’ Kita mungkin bisa melangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa gerak perkembangan yang positif dari masyarakat komunis akan sangat bergantung pada gerak perkembangan yang teratur dan rasional dari sekolah-sekolah. Ini merupakan prinsip-prinsip yang harus kita percayai, kata Gramsci. Kita memang harus mengelaborasi sebuah solusi atas berbagai problem secara menyeluruh, namun solusi awal tetap bisa dan harus diambil.

Konsep yang dianut saat ini oleh kaum sosialis ‘bahwa sekolah kejuruan merupakan sekolahnya kaum buruh’, harus ditolak dengan tegas. ‘Dalam konsep tersebut, terletak pengakuan bahwa masih terdapat dua kelas yang bersifat turun-temurun.’ Ini merupakan sebuah tesis yang kontra-revolusioner dan karena itu, harus dilawan sebagaimana halnya ide yang dianut secara khas oleh organisasi pendidikan kaum borjuis bahwa tujuan alami dari pendidikan ialah ‘kultur obyektif.’

‘Pemisahan secara mendasar tehadap sekolah-sekolah,’ tulis Gramsci dalam Gli Intellettuali, ‘antara sekolah klasik dan sekolah kejuruan merupakan sebuah skema yang rasional: sekolah kejuruan bagi kelas-kelas subordinat dan sekolah-sekolah klasik bagi kelas yang berkuasa dan bagi para intelektual.’ Kata sifat rasional di sini harus dipahami dalam artian terarah menuju sebuah tujuan tertentu. ‘Saat ini, terdapat sebuah kecenderungan untuk menghapuskan setiap tipe persekolahan yang “tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhan langsung” (disinterested school) (yang tidak langsung bersifat praktis [sekolah klasik]) atau tipe persekolahan “pembentukan diri” (formative school).

Atau hanya membangun sejumlah kecil sekolah klasik yang diperuntukkan bagi sejumlah kecil elit laki-laki dan wanita yang tak pernah khawatir akan masa depannya, serta membangun secara luas sekolah-sekolah kejuruan spesialisasi yang sudah dengan sendirinya sedari awal telah menentukan takdir dari para murid dan aktivitasnya di masa depan’.

Sekolah komprehensif, -yang akan dibangun oleh sosialisme untuk melenyapkan keterpisahan kelas dalam masyarakat sejak dari akarnya,- haruslah berupaya untuk menanamkan nilai-nilai ‘humanisme’ yang fundamental. Pada intinya, sekolah-sekolah itu harus menanamkan disiplin diri dan otonomi yang akan memungkinkan setiap orang, sebagai hasil dari proses studi mereka, untuk memiliki kesanggupan intelektual maupun moral untuk mencapai jenjang spesialisasi yang lebih tinggi, baik yang bersifat saintifik (studi-studi di Universitas) maupun yang bersifat praktis dan produktif (dalam dunia industri, dalam birokrasi dsb.).

Dalam tahun-tahun pembentukan diri ini, agar para murid bisa mencapai kematangan intelektual dan moral yang diinginkan, ‘sebuah sikap ketegasan yang otoritatif dan menentukan tidak boleh dijalankan secara kaku’, meski tujuannya ialah bagaimana ‘memoderasikan dan memperkaya orientasi dogmatis yang mau tak mau harus dimiliki pada usia-usia awal tersebut’.