Showing posts with label CERITA. Show all posts
Showing posts with label CERITA. Show all posts

Tuesday, 15 August 2017

UNTUK APA ANDA BEKERJA?

Bekerja adalah sebuah tindakan untuk menghasilkan suatu karya atau untuk mencapai suatu tujuan. Bolehlah jika dijabarkan dengan arti seperti itu. Nah supaya sesuai dengan judul yaitu Untuk Apa Anda bekerja, mari kita jelentrehkan atau kita jabarkan sebagai berikut.

Apa sih bekerja itu? Bagaimana sih bekerja itu? dan Untuk apa sih kita harus bekerja?
Bekerja, menurut orang pada umumnya dan orang normal, bekerja sering digambarkan dengan rutinitas pergi pagi dan pulang sore. Jika syarat tersebut telah tercapai, maka kita boleh dikatakan telah bekerja. Ya, rutinitas berangkat pagi dan pulang sore telah menancap erat dalam benak sebagian besar masyarakat. Entah siapa pencetus utamanya namun tak bisa dipungkiri beginilah adanya.

Bekerja dilakukan ketika berangkat pagi dengan pakaian kerja yang necis atau bisa berupa seragam kerja dan pulang sore kisaran jam empat. Syukur-syukur bisa lembur hingga malam. Maka predikat kerja telah mendapat imbuhan keras menjadi kerja keras.

Bekerja dilakukan untuk berbagai kepentingan. Ada yang bekerja untuk mencari uang, rejeki, nafkah. Ada yang bekerja untuk menyalurkan hobi, passion dan ada yang bekerja sekedar untuk mencari aktifitas, menghindari predikat nganggur atau rasa jenuh.

Dari tiga penjabaran diatas yaitu bekerja untuk mencari rejeki, untuk menyalurkan hobi dan sekedar mencari kegiatan, terletak dimanakah aktifitas bekerja anda?

Tidak ada yang salah dalam memilih bekerja untuk apa, toh dunia seisinya tak selalu perlu sebuah alasan untuk melakukan tindakan. Namun alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui apa tujuan kita bekerja.

Ketika kita mengetahui buat apa sih kita bekerja, maka secara otomatis hal tersebut mampu untuk dijadikan penguat data dalam memilih langkah yang harus kita jalani berikutnya. Jika bekerja sebagai tempat untuk mencari uang, maka money oriented tersebut dapat dijadikan dasar untuk mempertahankan pekerjaan atau pindah kerja dengan gaji yang lebih besar, untuk berhenti bekerja dan memulai usaha atau tetap bekerja dengan gaji yang stagnan.

Ketika bekerja adalah sebagai penyaluran hobi, maka kita dapat observasi diri untuk memilih tetap bekerja ditempat kerja tersebut atau berpindah demi mengasah kemampuan sesuai hobi tersebut. Kita juga bisa memilih dengan mempertahankan pekerjaan yang sesuai hobi atau berpindah kerja yang mungkin tidak sesuai dengan hobi, atau mungkin memutuskan untuk memilih berhenti dengan membuka usaha yang sesuai dengan hobi.

Yang ketiga adalah bekerja untuk mencari aktifitas, mengusir kejenuhan atau menghindari predikat pengangguran. Jika anda berada pada alasan ini maka tidak perlu dibahas lagi. karena yang perlu diambil adalah pekerjaan yang lebih menguntungkan untuk anda. Menguntungkan bukan sekedar masalah finansial, bisa jadi anda memilih pekerjaan yang lebih enjoy, santai meski dengan gaji tidak terlalu besar yang penting anda bekerja dan dapat mengusir waktu nganggur anda.

Nah sampai disini, kemudian boleh dong kita bertanya dan mencari jawaban pada diri sendiri, Untuk Apa Sih Saya Bekerja?

-Tutur Santika-

Friday, 11 August 2017

AL KINDI ADALAH FILOSOF MUSLIM PERTAMA

Al-kindi

Pada masa Dinasti Umayah memegang tampuk kekuasaan Khilafah Islamiyah, ada dua kota yang menjadi pusat (markaz) peradaban Islam, yaitu Bashrah dan Kufah. Hingga datangya kekuasaan Bani Abbas, dua kota tersebut tetap rnenjadi pusat kehidupan kebudayaan di seluruh dunia Islam,


Setelah para penguasa Daulah 'Ab-basiyah membangun kota Baghdad, pusat kebudayaan Islam pindah dari Bashrah dan Kufah ke kota yang baru tersebut. Sejak saat itu Baghdad menjadi pusat kekhalifahan di samping menjadi mercusuar kegiatan ilmiah dan peradaban. Kaum cendekiawan dan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia banyak yang datang ke Baghdad untuk mengabdikan dirinya dalam dunia ilmiah, baik dalam rangka melakukan riset, melaksanakan proyek terjemahan yang memang sedang berkembang pesat, maupun kegiatan ilmiah lainnya. Sehingga praktis, Baghdad menjadi pusat peradaban dunia.


Dalam suasana kehidupan politik dan pemikiran yang berkembang pesat itu, lahirlah sosok filosof Arab atau filosof Muslim Pertama dalam sejarah pemikiran Islam. Dialah Ya'qub ibn Ishaq AI-Kindi.


Riwayat Hidup



Abu Yusuf Yakub ibn Ishaq ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Mu ibn al-Asy'ats ibn Qais al-Kindi, atau lebih populer dengan sebutan AI-Kindi adalah filosof Muslim pertama.



Ia lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga berada dan terpelajar. Kakek buyutnya, al-Asy'ats ibn Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa'ad ibn Abi Waqash dalam peperangan antara kaum Muslimin dengan Persia di Irak. Sedangkan ayahnya, Ishaq bin al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan AI-Mahdi (775-785 M) dan AI-Rasyid (786-809 M). Sekalipun sang Gubernur sibuk dengan kegiatan-kegiatan politiknya, ia memberi perhatian penuh terhadap pendidikan putra tersayangnya, dan dengan kekayaan yang dimiliknya ia memberikan fasilitas dan sekolah yang terbaik bagi putranya.



AI-Kindi memulai perjalanan intelektualnya dari tanah kelahirannya sendiri, yaitu Kufah, kemudian melanjutkan pendidikannya kc Bashrah, yang pada saat itu merupakan pusat kegiatan ilrnu pengetahuan dan tempat utama gerakan pemikiran dan filsafat. Di Bashrah ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan, matematika dan filsafat. Tetapi tampaknya ia begitu tertarik kepada filsafat dan ilmu pengetahuan, sehingga setelah ia pindah ke Baghdad ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan filsafat.



Sejarah mencatat. AI-Kindi mengalami lima masa pernerintahan Daulah Abbasiyah - Al-Amin (809-813 M); Al-Ma'mun (813-833 M); Al-Mu'tashim (833-842 M); Al-Watsiq (842-847 M); dan Al-Mutawakkil (-861 M) - suatu masa kejayaan Dinasti Abbasiyah dan berkernbang pesatnya khazanah intelektual.



Di Baghdad - pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah - inilah ketajaman intelektualnya semakin terasah dan karir intelektualnya pun berkembang pesat. Hal ini bermula dari perkenalannya dengan Al-Ma'mun, khalifah pada masa itu yang sedang rnenggalakkan kegiatan-kegiatan ilmiah berupa pengkajian ilmu pengetahuan, dan yang paling monumental adalah proyek penerjemahan secara besar-besaran di bawah naungan sebuah lembaga yang disebut dengan "Bayt al-Hikmah" (Pustaka Kebijaksanaan). Khalifah meminta AI-Kindi untuk terlibat aktif dalam lembaga tersebut, baik sebagai tenaga edukatif, maupun sebagai peneliti dan penerjemah. Bahkan ia diminta menjadi guru pribadi Ahmad, putra AI-Mu'tashim.



Tampaknya, AI-Kindi sangat menikrnati suasana intelektual pada saat itu. la menerjemahkan beberapa karya dan merevisi terjemahan orang lain, seperti teologi Aristoteles. Hal ini dimungkinkan karena Al-Kindi menguasai ajaran-ajaran Persia, Yunani, dan India, serta ia juga fasih berbahasa Ibrani, Yunani, dan Arab. Untuk mengalih-bahasakan istilah-istilah filosofis dan ilmiah tertentu yang ia temukan dalam karya-karya asing, ia menciptakan beberapa kata baru dalam bahasa Arab, seperti jirm untuk tubuh, thinah untuk materi, al-tawahum untuk irnajinasi, dan lain-lain.



Karena wawasannya yang luas tentang berbagai jenis ilmu pengetahuan, juga karena ia seorang Arab yang beragama Islam, dan tidak seperti orang lain yang memperoleh ilmu pengetahuan lewat karya-karya terjemahan, maka ia layak disebut sebagai "Filosof Arab" atau "Filosof Muslim" pertama.

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 7)

Catatan-catatan sosial kecil dalam koran-koran, bahkan dalam koran-koran kecil, telah merangsang refleksi-refleksi yang menarik dan membawa orang kepada pemikiran-pemikiran mendalam. Segala sesuatu memiliki cita rasanya sendiri, kebenarannya sendiri. Saat membaca catatan-catatan statistik resmi, Gramsci menulis (terasa agak ironi juga karena harian Ordine Nuovo terpaksa menerbitkan catatan-catatan statistik itu dalam kolom-kolomnya seperti yang dilakukan oleh koran-koran lain atas dasar kengototan para pembacanya) berita-berita atau ide-ide yang menarik.

‘Di satu sisi, kaum borjuis dan di sisi lain, kaum proletariat ada dalam catatan statistik ini sebagaimana halnya ada dalam kota imajiner yang diciptakan oleh Wells dimana sedikit demi sedikit, dua wujud kemanusiaan meningkat pesat jumlahnya tanpa ada kontak sama sekali di antara keduanya. Hasil pengamatan pertama menunjukkan bahwa ada banyak buruh muda yang menikah, yang memiliki keberanian untuk menghadapi kehidupan, sementara ada sangat sedikit anak muda dari kelas menengah yang melakukan hal yang sama, hanya satu dari sepuluh orang.

‘Jika diamati lebih jauh, sementara sangat jarang bagi seorang buruh muda untuk menikahi seorang wanita dari lapisan kelas menengah, hal sebaliknya sering terjadi. Apa sebabnya? Barangkali karena fakta bahwa para buruh merasa lebih kuat ikatan karakteristik dan asal-usulnya sebagai kelas buruh, dan terhadap wanita-wanita borjuis, mereka merasa acuh tak acuh, jika bukannya memusuhi.’ Namun, ada yang lebih membingungkan dalam catatan-catatan statistik resmi tersebut”

‘Lihat bagaimana keungggulan para buruh terampil cenderung terjaga dalam hal memilih pasangan hidup, dan yang terutama lihat bagaimana kelompok semi-proletariat mempertahankan karakteristik mereka, bagaimana kelompok anggota kelas menengah merasa malu disebut sebagai buruh, bagaimana para buruh yang sangat ingin hidup seperti halnya kelas menengah dan yang jika gagal mencapainya lewat pekerjaan, akan berusaha untuk mengangkat taraf diri mereka dengan menikahi seorang “intelektual” ketimbang seorang kamerad sesama buruh.’ Tentu saja, sudah jelas apa yang hendak dikatakan oleh Gramsci.

Hal tersebut merupakan sebuah contoh dari bagaimana, bahkan dari pembacaan atas kolom nama dan jumlah, kita bisa menarik pelajaran mengenai sejarah kelas dan mengembangkan sebuah pelajaran berharga darinya bagi siapa saja: ‘Bahkan catatan statistik yang paling kering dan paling monoton pun menjalani kehidupan yang sama sebagaimana semua fakta yang membentuknya.’

 Di samping itu, masa tersebut merupakan sebuah periode dimana perbincangan mengenai keluarga, mengenai arti penting wanita dalam keluarga dan dalam masyarakat, mengenai kehidupan seksual dan pernikahan menyebar luas. Persoalan seksual terutama menjadi ‘obsesi’ yang luas. Barangkali hal ini terkait dengan bentuk keterpisahan tertentu antara kota dan pedesaan yang kita saksikan dalam masa kita, kata Gramsci. Tentu, bukan kebetulan bahwa semua buku ‘utopia’ memimpikan sebuah masyarakat yang didasarkan pada komunisme primitif, dimana persoalan seksual ‘harus memainkan peran yang sangat besar’.

Bahkan harus diingat, reproduksi sendiri memiliki sebuah ‘fungsi ekonomi’. Namun persoalan seksual membawa dalam dirinya persoalan lain, barangkali persoalan yang lebih penting, ‘yaitu persoalan pembentukan sebuah kepribadian feminin yang baru’. Kaum wanita harus memiliki posisi yang berbeda dalam ranah keluarga dan masyarakat. ‘Sepanjang kaum wanita bukan saja belum mencapai kemandiriannya yang riil dari kaum pria, namun juga konsepsi baru atas diri mereka dan peran mereka dalam hubungan seksual, maka persoalan seksual akan tetap penuh dengan karakteristik yang tak sehat. Karena itu untuk bersikap hati-hati dalam melakukan perubahan dalam perundang-undangan.’

Posisi wanita dalam keluarga dan dalam masyarakat pada masa-masa itu sungguh sulit. Ketidakamanan dan ketidakstabilan yang dirasakan oleh kaum wanita menjadi bukti akan hal ini. Bukan hanya wanita yang telah menikah, yang menjadi kepala keluarga dengan beberapa anak, yang tak sanggup memahami sesuatu yang lebih jauh di luar rasa cinta kasih mereka yang kuat terhadap anak-anaknya. ‘Ibu tak boleh merasa khawatir, dan ibu harus berpikiran bahwa saya dalam keadaan damai.

Oh! Ibu-ibu yang terlalu mengasihi anaknya! Jika saja dunia ini selalu berada di tangan ibu-ibu yang demikian, maka para laki-laki akan tinggal di gua-gua dan berpakaian kulit kambing!’ tulis Gramsci kepada ibunya pada tanggal 7 November 1927; namun juga wanita yang belum menikah tampaknya hanya melulu tahu tentang tugas ‘keibuan’-nya, dan tak sanggup memahami problem-problem sosial yang melingkupinya yang tak berdampak langsung terhadap dirinya.

‘Segala sesuatu,’ tulis Gramsci sekali lagi kepada ibunya pada tanggal 1 Februari 1932 menyinggung masalah keponakan perempuannya, Mea, ‘terletak dalam kemauan baik dan ambisinya dalam artian yang baik. Selain itu, dunia tak akan runtuh jika dia menghabiskan waktunya di Ghilarza, hanya duduk-duduk merajut karena tak memiliki keinginan untuk berusaha mencapai keberhasilan dalam melakukan sesuatu secara lebih baik dan lebih brilyan. Saya tak tahu apakah dia menjadi anggota organisasi pemudi Fasis.

Saya rasa begitu, meskipun ibu tak pernah menulis tentangnya kepadaku, dan saya membayangkan bahwa dia memang memiliki beberapa ketertarikan dalam pertunjukan-pertunjukan semacam itu. Jadi, dia akan menjalani takdir yang sama seperti para pemudi Italia lainnya, yaitu menjadi ibu yang baik buat keluarganya, seperti sebutan buat mereka. Mereka menjalani takdir demikian karena menikahi orang pandir, yang sesungguhnya belum tentu pandir karena sebenarnya orang pandir hanya ingin menikahi ayam-ayam betina yang berasal dari negeri-negeri Skandinavia dan kaya-raya.’

Gramsci sendiri secara pribadi sangat menghormati pribadi wanita. Rasa sayangnya dan rasa hormatnya kepada ibunya dan saudara ipar perempuannya tampak jelas dari kehidupan dan dalam surat-suratnya. Memang masih harus dinilai secara umum sikap ‘teoretis’-nya terhadap wanita yang bagi kita, -para pembaca di sebuah masa yang telah mengalami perubahan-perubahan secara begitu cepat, termasuk dalam kebiasaan-kebiasaan kita,- mungkin tampak begitu terbatas.


PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 6)

Koran-koran ‘independen’ kadangkala menjadi corong dari beberapa ‘kekuatan-kekuatan tahayul’ yang memiliki kepentingan untuk memunculkan ‘gerakan-gerakan opini publik yang liar sepanjang waktu.’ Sejarah Negara Italia juga adalah sejarah bagaimana ‘Negara, ketika berkeinginan untuk memulai sebuah aksi populer, menciptakan sebelumnya opini publik yang dibutuhkannya’.

Dengan kata lain, negara Italia menjalankan serangkaian operasi yang mengijinkannya untuk mengorganisir elemen-elemen civil society yang dibutuhkannya. Apa yang biasanya ditunjuk oleh frase ‘opini publik’ barangkali memang telah selalu ada dalam tingkatan tertentu, bahkan di negeri-negeri timur; namun dalam artian tertentu, frase itu muncul hanya setelah keruntuhan dan lenyapnya Negara-negara absolutis.

Dalam periode yang bersamaan, kaum borjuis yang pada saat itu telah cukup kuat sudut pandang ekonomisnya, berupaya juga untuk merebut kekuasaan politik. Problem fundamentalnya ialah untuk bisa membuat semua opini publik berpihak kepada negara borjuis: ‘Karena itu, muncul pertarungan demi monopoli  atas organ-organ opini publik: seperti koran, partai, parlemen, sehingga sebuah kekuatan tunggal akan bisa membentuk opini dan juga kehendak politik nasional, dan memotong-motong seluruh perbedaan pendapat menjadi partikel-partikel yang bersifat individual dan non-organik.’


Baru-baru ini, kata Gramsci dengan merujuk pada situasi periode dimana dia menulis (namun itu tak berarti tak bernilai dan tak bisa diterapkan untuk konteks saat ini), muncul dua elemen baru yang mengacaukan rencana-rencana yang telah dibuat sebelumnya oleh partai-partai tradisional untuk memonopoli opini publik: yaitu pers gosip dan radio. Kedua elemen baru ini, karena populeritas dan ‘kecepatan peredarannya’ memiliki kemampuan untuk ‘merangsang munculnya letupan-letupan kepanikan atau antusiasme fiktif yang spontan yang memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan yang telah ditentukan, sebagai misal dalam pemilu’.

Situasi letupan spontanitas ini bisa terjadi karena kedaulatan umum dipandang sebagai sesuatu yang dijalankan hanya pada selang-selang waktu yang reguler, sepperti setiap tiga, empat atau lima tahun. Maka, kemudian seluruh perhatian dari kelas yang berkuasa beralih kepada bagaimana menciptakan ‘supremasi ideologis’ (atau lebih tepatnya, supremasi emosional) pada hari tertentu. Sesudah itu, selama tiga, empat atau lima tahun berikutnya, kelas ini akan terus melanjutkan kekuasaannya atas negeri ini.

Bahkan saat emosi tersebut diwujudkan dalam undan-undang, namun ‘massa pemilih telah menjadi berjarak dengan perwujudan legal dari dirinya (karena bangsa secara riil berbeda dari bangsa secara legal)’.[1] Apa yang bisa dilakukan oleh partai-partai untuk mencegah semua ini – semua manipulasi yang tak tahu malu atas opini publik? Tak banyak, barangkali bahkan lebih sedikit dari yang bisa dilakukan oleh serikat buruh yang bebas: ‘Salah satu problem teknik politik yang muncul saat ini, namun yang tak sanggup ditemukan penyelesaiannya oleh demokrasi, ialah berikut ini: yaitu menciptakan organ-organ perantara antara massa umum yang tak bisa diorganisir oleh serikat buruh (atau sulit untuk diorganisir), serikat-serikat buruh profesional, partai-partai politik dan dewan-dewan legislatif.’

‘Sosialisme masih sering ditampilkan sebagai musuh keluarga,’ begitu Gramsci mengawali sebuah artikel yang diterbitkan dalam Il Grido del Popolo yang terbit tanggal 9 Februari 1918. Komentar di atas ini merupakan salah satu komentar klise yang paling tersebar luas, terutama di kalangan strata penduduk yang tak bersimpati kepada kaum sosialis, dan yang di sisi lain di kalangan mereka yang tak cukup terdidik untuk mengetahui program kaum sosialis dan apa yang sebenarnya diperjuangkan kaum sosialis. Bagi kaum sosialis, keluarga merupakan ‘sebuah organisme moral’.

Keluarga menetapkan kewajiban-kewajiban moral yang pertama kepada individu dan ‘keluarga harus diintegrasikan kembali dalam fungsi moralnya yang satu, yaitu mempersiapkan manusia, mendidik warga’. Inilah yang menjadi pemikiran kaum sosialis, paling tidak mereka yang bukan merupakan ‘pemuja fanatik Negara’ dan mereka yang tidak percaya bahwa ‘dalam sebuah rezim sosialis, pendidikan anak-anak harus diserahkan kepada institusi-institusi Negara’.

Namun, pernahkah muncul dalam pemikiran bahwa dalam masyarakat borjuis, setiap individu harus memecahkan problem-problem kelangsungan hidupnya sendiri, problem anak-anak dan istrinya dengan sebuah sarana-sarana ‘solusi yang antimanusiawi’, dengan sarana perjuangan yang melawan individu-individu yang lain, dengan penguasaan hak istimewa yang secara niscaya didasarkan pada beban pundak manusia-manusia yang lain?

Penghapusan hak milik, di sisi lain, bisa ‘menjadikan keluarga menjadi apa yang ditakdirkan sebagai tujuan dirinya: yaitu sebagai organ dari kehidupan moral’.

x

[1] Ini merupakan sebuah ungkapan yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana pemilu yang sangat dibatasi dijadikan dasar bagi Negara Italia. 

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 5)

Gramsci memberi judul Come deve essere fatto un giornale comunista pada salah satu artikelnya yang dimuat dalam harian Ordine Nuovo pada tanggal 31 Oktober 1921. Sebuah koran komunis, kata Gramsci, harus menemukan sebuah basis komunis yang luas yang mendukungnya secara aktif, bukan hanya dalam kata-kata, namun juga dengan tulisan dan aksi. Tanpa mereka sadari, kaum buruh rupanya masih terbawa untuk mengasimilasikan tendensi-tendensi borjuis kecil. Sebagai misal, mereka memandang koran dalam cara yang sama dengan kaum borjuis kecil memandang koran-koran mereka sendiri.

Ini merupakan problem ‘penggerogotam yang nyata terhadap kelas buruh’ yang obatnya harus ditemukan. Sebuah kerjasama yang aktif dan bernilai harus dijalankan, dan pembentukan sebuah ‘mata rantai permanen antara koran dan inti kaum proletariat yang merasakan dan mengalami problem-problem kelas secara keseluruhan’ sangat dibutuhkan. Mata rantai ini tak bisa dan tak boleh dibentuk antar individu, namun antara koran dan massa buruh, dengan segenap kekuatan organisasi yang mengorganisir gerakan kaum buruh berada di belakang sebagai pendukungnya.


Arti penting dari harian terhadap pendidikan, terhadap pembentukan kepribadian, dan terhadap ‘kebebasan’ individu untuk mengambil pilihan-pilihan yang menentukan tak boleh dilupakan. Media massa borjuis yang besar, yang disebut sebagai koran-koran independen, merupakan ‘tentara-tentara ideologis bayaran’ yang melayani kepentingan kapital, dan berperanan sebagai bagian dari perjuangan kelas, bagian yang penting.

Koran borjuis berperanan seperti halnya perusahaan komersial besar yang seluruh niatannya ialah “menyuling laba politik’. Kaum borjuis memiliki ribuan dan ribuan koran dan mesin cetak. Jadi, bisakah orang sunggguh-sungguh berbicara tentang kebebasan dalam sebuah Negara yang borjuis? Bisakah orang bisa sungguh-sungguh mengatakan bahwa sebuah parlemen yang dipilih dalam kondisi-kondisi demikian merepresentasikan ‘kebebasan’ kehendak dari bangsa?

‘Pers, bersama dengan partai-partai politik, merupakan bagian integral dari rezim parlementer demokratis yang terorganisir dengan baik. Jika pers gagal dalam tugasnya untuk menjadi sebuah organ kontrol opini publik yang tak memihak, siapa yang akan bisa melawan kesewenang-wenangan para pejabat?’ Namun, justru kelas menengahlah yang pertama kali sadar betul akan kekosongan dari ideal-ideal yang mendasari masyarakat mereka.

Merekalah yang pertama kali memahami betapa ideal-ideal tersebut tak memiliki substansi apapun yang nyata:‘Para jurnalis borjuis tahu semua ini, namun mereka membiarkan semua kebohongan itu terus berlangsung’.Mereka dengan sadar membiarkan setiap manipulasi atas kebenaran, fakta-fakta dan hati nurani.

PENDIDIKAN, SEKOLAH, DAN MEDIA MASSA: KELUARGA DAN KAUM WANITA DALAM MASYARAKAT (BAGIAN 4)

Belajar adalah sebuah kerja keras, dan tentu saja seorang anak yang belajar akan menjadi jemu, dan segala hal harus kita lakukan untuk mengurangi kerja keras itu ke tingkat minimum yang diperlukan. Namun kita juga harus meyakini bahwa ‘belajar adalah kerja perkembangan diri’, bukan hanya merupakan kerja manual yang hanya bisa diartikan sebagai bekerja dan kerja keras. Dengan kata lain, belajar mensyaratkan proses adaptasi yang besar-besaran lewat ‘usaha, rasa bosan, dan bahkan penderitaan’.

Sebuah sekolah menengah yang komprehensif, yang dijalani oleh banyak pelajar, ‘memiliki kecenderungan mengendur tingkat disiplin belajarnya dan kecenderungan munculnya tuntutan untuk “memberikan kelonggaran-kelonggaran”’. Banyak orang yang bahkan beranggapan bahwa ketidakmudahan-ketidakmudahan dalam disiplin belajar itu adalah sesuatu yang tidak perlu ada karena mereka terbiasa menganggap hanya kerja manual saja yang harus dijalani sebagai bekerja dan kerja keras.

Ambil contoh kasus anak dari sebuah keluarga intelektual. Sang anak tidak terlalu mendapati kesulitan untuk beradaptasi dengan proses bersekolah sama halnya dengan ‘anak seorang buruh perkotaan yang masuk ke pabrik jika dibandingkan dengan anak petani atau dengan seorang petani muda yang terbiasa dengan kehidupan pedesaan’. Tampak jelas apa yang menjadi fokus pemikiran Gramsci. Dia secara terus-menerus mengulang bahwa problem-problem pendidikan itu kompleks. Dia memang terkesan masih meraba-raba dan belum menemukan solusi ideal bagi problem sekolah dalam masyarakat komunis, sekolah di masa depan di Negara Buruh.

Problem-problemnya kompleks dan kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi begitu besar ‘jika seseorang ingin menciptakan sebuah strata intelektual yang baru, yang akan mencakup mereka yang paling terampil dari kelompok sosial yang secara tradisional belum mengembangkan perilaku-perilaku yang tepat’.


 Lettere dal Carcere pun menjadi sebuah dokumen luar biasa untuk menghimpun ide-ide Gramsci mengenai pengajaran dari sudut situasi-situasi aktual karena dia, paling tidak via surat-suratnya, terlibat langsung dalam mendidik dan mengembangkan kepribadian anak-anaknya dan keponakan-keponakannya. Kerja pengembangan diri seorang pendidik adalah kerja yang tak mudah. Hanya orang yang bisa memahami anak-anak secara akrab dan bisa mendampingi mereka sepanjang gerak perkembangan mereka dan bisa memahami jalan mendidik yang mungkin terbaik, sepanjang dia tidak terbutakan oleh perasaan-perasaannya sendiri, tenggelam ke dalam perenungan yang semata-mata bersifat estetis mengenai anak karena hal ini secara implisit berarti mendegradasikan fungsi dari sebuah kerja seni’.

Sebuah kekeliruan yang harus dihindari (dan yang merupakan kekeliruan yang umum dilakukan) ialah percaya bahwa ‘dalam diri anak telah ada secara potensial manusia dewasa seutuhnya. Sehingga karena itu, yang perlu ialah membantunya mengembangkan apa yang telah ada secara laten tanpa paksaan, dan membiarkan kekuatan-kekuatan alam atau apapun yang bersifat spontan membentuknya’. Padahal, pembentukan manusia dewasa itu merupakan sesuatu yang bersifat historis, tumbuh dari paksaaan (yang tentu saja tidak boleh diartikan semata-mata sebagai kekerasan dari orang lain). Jika orang menolak pandangan kritis tersebut, ‘orang akan jatuh ke dalam paham transendentalisme atau imanentisime’.

Jika konsepsi pendidikan sebagai aktivitas ‘membantu tumbuhnya potensi laten yang telah ada’ ditolak dan kita tak lagi percaya akan kecenderungan-kecenderungan yang bersifat imanen yang bisa muncul sejak dini, maka anak harus diarahkan secara tepat ke arah pembelajaran yang seimbang, ke arah ‘sebuah adaptasi harmonis dari seluruh fakultas intelektual dan praktis yang akan berkesempatan untuk menjadi terspesialisasi seiring waktu di atas dasar kepribadian yang kokoh yang terbentuk secara integral dan menyeluruh’.

Sangat sulit untuk menentukan apa yang baik dan apa yang buruk dalam bidang ini: ‘dalam realitas, saya hampir tak tahu apa-apa mengenai anak-anak, mengenai gerak perkembangan intelektual mereka, mengenai kehidupan kongkret mereka.’